Oleh : Dena Qotrunnida (Kader KOPRI PMII RDK)
Sejarah perkembangan feminisme bermula pada abad ke-18 hingga abad ke-19, ciri khas feminisme diawali dengan moral victorian. Menurut Hegel, moral victorian adalah dimana para perempuan di Inggris menggunakan Ratu Victoria sebagai gambaran ideal perempuan yang sebenarnya.
Epistimologi dari feminisme sendiri tidak mempunyai pengertian baku karena para feminis dunia percaya bahwa pengertian feminisme ini akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pada abad ke-20 Gerakan Feminisme di Eropa mulai berkembang dengan keberhasilannya merubah pola pikir. Perempuan lebih bebas dalam berpakaian tidak di pasungkan dengan perkataan bahwa perempuan harus berpakaian seperti ini dan seperti itu, perempuan harus sopan duduk tidak boleh seperti itu, pada abad ini perempuan pun bahkan sudah boleh berkerja di tengah masyarakat.
Pertanyaan yang mendasar yang mengelitik saya adalah bagaimana proses pergumulan itu bermula?. siapa tokoh yang dengan pemikirannya peduli atau bahkan serius terlibat dalam perjuangan hak-hak perempuan?. Saya yakin tokoh perempuan ini adalah hamba Tuhan yang berani, cerdas dan juga peduli dengan keadaan perempuan pada masa itu.
Perang Dunia menciptakan konteks baru dikalangan feminist, yakni nasionalisasi perempuan. Perempuan terus menentang diskriminasi dan menuntut hak-hak mereka.
Tidaklah masih banyak laki-laki yang men-Dewi Tolol kan istrinya ? Padahal hakekatnya peradabaan itu ada di negeri- negeri borjuis yang telah “Sopan” pada waktu sekarang ini, kaum perempuan berdiri di atas kenyataan “Dewi Tolol” itu?. Sebab, sampai saat ini adat-istiadat di negeri-negeri borjuis ini sebenarnya masih men-Dewi tolol kan perempuan?. Perempuan selalu disanjung cantik, anggun nan jelita tetapi ia digrogoti kesuciannya , dipasung oleh budaya kolot, dijadikan barang pemilik sang laki-laki itu lah yang dinamakan “Dewi Tolol”. Bagaimana dengan perempuan di Indonesia?.
Kita, bangsa Indonesia keterbelakangan dalam banyak urusan kemajuan. Terutama sekali di luar pulau jawa di dalam urusan posisi perempuan pun terbelakang. Kondisi hari ini kajian terhadap isu-isu perempuan dan feminisme dalam ranah akademik di Indonesia sudah berlangsung sejak pertengahan tahun 1980-an dengan munculnya berbagai perkuliahan mengenai Isu perempuan dalam berbagai disiplin Ilmu di Universitas. Para ilmuan tidak hanya menciptakan mata kuliah baru, tetapi juga mendirikan lembaga dan mengembangkan berbagai kajian mengenai permasalahan yang dihadapi perempuan. Karna dari itu feminist tidak mendefinisikan secara baku tentang apa itu pengertian feminism?. Karena menurut saya feminisme ini adalah isme untuk mendefinisikan perempuan karena perempuan sangat sulit di definisikan.
Ranah perpolitikan di Indonesia pun sudah mulai berpihak pada perempuan dengan adanya peraturan tentang 30% kedudukan perempuan di kursi perpolitikan. Hal tersebut mengingatkan kita bawa perempuan dan laki-laki itu suatu pokok yang manunggal keduanya mempunyai jiwa yang sama pula. Saya akan mengutip tulisan Bung karno dalam buku SARINAH “Soal perempuan adalah soal masyarakat”
Editor : Adidah
https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk
BalasHapusWeb: almawaddah.info
Salam
Kepada:
Redaksi, rektor dan para akademik
Per: 1. Beberapa Hadis Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim yang disembunyikan. 2. Surat Terbuka Kepada Perdana Menteri Malaysia.3. Sejarah awal dialog Sunni-Syiah sehingga 2013 M Tumpuan khusus di Malaysia.
Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari web: almawaddah. info
Selamat hari raya, maaf zahir dan batin.
Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan