Rabu, 31 Januari 2018

Angin di Sela-Sela Pilkada

Angin di Sela-Sela Pilkada

Oleh: Aris Hidayatulloh

Di pertengahan bulan januari 2018, parka atau semacam jaket yang terbuat dari kulit domba mungkin akan terasa hangat jika di pakai ketika angin di musim politik menyelinap tubuh tanpa kaku. Dan hal yang mungkin di lakukan sepasang anak remaja ketika tertiup angin asmara adalah menutup mata sendu padahal mereka tau dan pura-pura berkedipan mata seolah-olah ada kotoran di mata. Terlihat romantis hati tidak bisa berpura-pura, angin di sepanjang jalan raya melambaikan asa kepada sepasang sosok yang terpangpang di baliho ukuran besar lampu merah. Kesejasteraan rakyat terlihat jelas di tulis dengan warna merah dan putih, lambang pusaka milik negara yang gagah di terpa udara segar jalan raya. Salam hormat untuk sepasang visi dan misi mebangun desa sampai ke kota.


Pagi hari sebelum di sambut tulus matahari, pemandangan kota yang sebentar lagi menjadi panggung dan pameran program kerja. hati yang malu menyaksikan komitmen panas dari tata surya. Menyebar kasih tanpa iba,  silih asah, silih asih, silih asuh sudah tentu, untung rugi tidak menjadi timbangan rata untuk maju. Angin masih berkelabu meski kaki harus beranjak pergi untuk membeli koran dari desa ke batas kota, dimana harus melewati jalan bebatuan yang tahun depan di janjikan perbaikan. Angin di musim politik masih saja berirama dengan nuansa januari yang romantis, begitu pun sepasang orang yang terpang-pang di baliho lampu merah begitu murah senyum meski goncangan angin merasa iri. Sudahlah… kenapa tidak berkompromi saja, gagasan mana yang kira-kira sesuai dengan bukti nyata.


Siang hari di musim dingin januari, usai tukang becak berdo’a dari tempat suci berharap biaya sekolah si bungsu bisa selesai dengan kondisi. Pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan menjadi ladang yang di tawarkan semoga tidak menjadi belenggu yang menyakitkan. Siang hari di perbatasan kota samping pasar, tukang becak masih saja kebingungan bagaimana mau membiayai sekolah. Pelanggan nya pun kini jarang ke pasar, usut punya usut harga sembako nya pun sangat kasar. Bukan hanya tukang becak, angkot dan tukang ojek pun resah ketika musim angina menusuk-nusuk beban hidupnya.


Sore hari di waktu senja, surat kabar di kolom milik media masa menginformasikan bahwa rakyat harus ikut andil dalam mensukseskan pilkada. Tukang becak yang dari kedinginan tertusuk-tusuk beban kini menerima kabar yang sama membingungkan. Padahal beberapa tahun lalu dia selalu mengorbankan waktu mencari rizki nya untuk pergi ke TPS, tapi itulah tukang becak. Meski tidak seperti politikus yang bijak tukang becak pun bersikap tegas untuk memilih tanpa di asih. Angin di bulan januari begitu romantis sampai tukang becak pun merenung tanda rindu bersemangat iba dari rakyat yang hanya makan sederhana.


Malam menggigil kedinginan, waktu antara merebahkan lelah dan berdo’a agar selamat di dunia. Sama  hal nya dengan persiapan pilkada bulan depan semoga selamat sampai khidmat, tidak usah pusing dengan bisikan tetangga. Rukun dan akur itulah program selama bernegara, siapapun yang manggung kita masih menjadi tetangga yang saling bahu membahu, silih asah, silih asih, silih asuh.


Angin di sela-sela pilkada adalah sublimasi dari resah yang bercampur dengan harapan mulia nan jaya. Bagaimana kita selaku bagian terpenting dari warga negara akan menentukan sendiri pilihan pemimpin sesuai dengan selera. Hari ini kita di anggap penting jangan sampai hari kemudian kita di anggap korban kekuasaan, angin di sela sela pilkada sangat erotis menggugah gairah kerja untuk tetap mencari nafkah. Biarkan mereka sibuk dengan tugas tahunan nya asal jujur tidak mencelakakan rakyat nya, sudah beberapa kali mungkin kita di tusuk-tusuk beban hidup yang tidak jelas. Kalo bukan karena nahkoda yang tidak tau bagaimana cara nya berlayar ke tiap-tiap samudra lantas siapa yang akan paling depan berbicara?.


Setelah angin di sela-sela pilkada usai mari untuk sama-sama berbenah diri, di mulai dari diri pribadi, penguasa negara sampai ke desa. Akan bagaimana kedinginan yang lumayan panjang ini berbuah manis dengan musim mendatang yang di cita-citakan. Besok pagi yang siap menyapa cahaya, siap-siap bekerja keras dan cerdas untuk keluarga dan negara, tukang becak yang mengayun-ayunkan kaki nya, petani yang dari subuh pergi keladang asri, pegawai negri, swasta yang rapai dan wangi atau polisi yang dari pagi berdebu-debu panas mengamankan lalu lintas semoga tetap jaya dan berpahala, menjadi warga negara yang asik dan romantis pun bagian dari unsur menciptakan kedaulatan bersama.


Angin di sela-sela pilkada hampir saja usai, entah di bulan apa pilkada akan diselenggarakan. Tentu saja mental dan siap bangun harus terlatih dari sekarang, untuk itu agar tidak terlalu dingin perlu kiranya fisik dan pikiran harus di olah ragakan yang kemudian membantu lancarnya pendapatan pengetahuan. Itulah, sekiannn.



Selasa, 30 Januari 2018

PMII Komisariat UIN Bandung Gelar PKD

PMII Komisariat UIN Bandung Gelar PKD

Pentingnya lakukan kaderisasi, pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Cabang Kabupaten Bandung gelar Pelatihan Kader Dasar (PKD) Se-Jawa Barat di Villa Datuk Manglayang, Minggu (21/01/2018).

Kegiatan yang bertema "membumikan PMII, Memperkuat Ideologi, untuk Mengawal NKRI" ini bertujuan membumikan PMII, khususnya kepada masyarakat akademis yaitu mahasiswa. Serta mampu memperkuat ideologi, baik Ideologi Pancasila maupun Ahlussunnah Wal Jama'ah. Demikian papar Rizal Mutaqin, selaku ketua komisariat UIN SGD cabang Kabupaten Bandung.

"Jika kita membahas NKRI, maka tidak lepas dari sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), juga aset-aset Negara yang harus kita rawat dan kembangkan." Ujarnya.

Selain itu dalam kegiatan tersebut, pria asal Cianjur ini juga menjelaskan untuk tetap menjaga idealisme, pelaksanaan PKD kali ini tidak terlepas dari tiga aspek diantaranya aspek pengetahuan, gerakan dan administratif yang harus senantiasa dipertahankan.

Adapun ekspektasi dari kegiatan ini, ungkapnya, kader-kader jebolan PKD komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung diharapkan mampu menjadi pioner-pioner di rayon, komisariat maupun di cabangnya masing-masing. Dan meneruskan apa yang sudah menjadi ritus di tubuh PMII.

Ditegaskan olehnya, konsep penyelenggaraan PKD kali ini harus dijadikan referensi untuk kegian PKD selanjutanya. Supaya corak PKD saat ini tidak hilang, dan mengakar di PMII komisariat UIN SGD cabang kabupaten Bandung. "Hal tersebut seperti salah satu kaidah al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil Jadidil ashlah", pungkasnya.
(Dasem Miyasi)


Jumat, 17 November 2017

Refleksi Hari Pahlawan, PMII: Cegah Radikalisme

Refleksi Hari Pahlawan, PMII: Cegah Radikalisme

Bandung, Puluhan kader dan anggota PMII dibawah naungan PMII Komisariat UIN SGD BDG Cabang Kabupaten Bandung menggelar Refleksi Hari Pahlawan di Graha Pergerakan. Kamis, (16/10/2017).

Sebagai organisasi yang berlandaskan ASWAJA dan Pancasila, dalam momentum Hari Pahlawan ini, PMII  melakukan refleksi atas persoalan-persoalan teraktual yang muncul. Seperti maraknya gerakan faham Radikalisme yang terindikasi dapat memecah kesatuan.

"Kader PMII harus tetap mengaktualisasikan dan mempertahankan tiga  hal, yakni: Ideologis, leadership, dan relasi. untuk menjaga kesatuan serta menjalankan roda organisasi." Tutur Zaini Shofari, mantan Sekjen PB PMII masa khidmat 2008-2011.

Refleksi ini merupakan kegiatan untuk mengingat, dan mengenang jasa pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Senada dengan yang dikatakan Ketua Internal PMII Komisariat UIN SGD, "Bahwa Refleksi ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali Ghiroh kepemudaan dalam dalam mengawal kebhinekaan". Ungkap Rizka Kamaludin Asyabani.

Kesadaran historis dan kesadaran ideologis tetap harus ditransformasikan sebagai bentuk merawat bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara.

"Spirit peengetahuan dan spirit gerakan harus selalu panjang umur. Karena bangsa butuh pemuda dan kita adalah pemuda. Karena hal tersebut adalah modal untuk menyongsong masa yang akan datang". Tutur Rizal Mutaqin, Ketua umum PMII komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung.

(Rizal/Rokib).


Sabtu, 07 Oktober 2017

Inilah Keuntungan Berorganisasi

Inilah Keuntungan Berorganisasi

Oleh : Ella Nurlaela
(Kader PMII Rayon Syariah dan Hukum)

Bisa kuliah dan jadi mahasiswa memang patut kita syukuri, sebab diluar sana banyak saudara kita yang belum beruntung seperti kita.

Entah karena faktor ekonomi atau mungkin ada juga saudara kita yang sakit sehingga menunda niat baiknya demi proses penyembuhannya. Yang jelas, apa dan bagaimanapun kamu saat ini meski dibenturkan dengan fenomena gak keterima di Universitas ternama yang difavoritkan oleh kaum muda seantero nusantara, salah masuk Universitas dan gak keterima di jurusan pilihanmu hingga kamu berperasaan salah masuk jurusan harus tetap kamu syukuri dan fighting.

Tengoklah kebawah, lihatlah mereka yang berjuang sekuat tenaga untuk bisa masuk kampus yang kamu anggap "sepele" ini. Belajarlah dari keteguhan mereka buang ego kamu yang justru malah menghambat kreativitasmu. Anggap saja ini adalah amanah dari orangtuamu, mereka saja tidak pernah menyesal punya kamu masa kamu mengeluh dengan kuliah yang justru orangtuamu biayai, hargai mereka karena ini bagian dari menghargai jiwamu juga.

Tenangkan kembali perasaan dan pikiranmu, lakukan tugasmu sebagai mahasiswa dengan baik dan buang jauh keluh kesah itu. Bacalah sebanyak-banyaknya buku jangan maen gedget melulu! Menjadi mahasiswa ideal memang sangat luar biasa. Kamu akan menjadi panutan bagi teman sekelasmu, para dosen mengenalmu dengan image baik dan tentu orangtua sangat bahagia karena anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar.

Eeeiiiitttsss, kamu boleh dan sah-sah saja jika memprioritaskan akademikmu hingga IPK mu 4,5 (ahaha mana ada ya? IPK segitu, wong kamu sholat subuh 12 rokaat aja belum tentu dapet nilai segitu, lagian mana ada sholat subuh 12 rokaat?, ngawuuurrr). Ya, intinya nilaimu aman dan tinggi disetiap semesternya lebih baik ketimbang kamu cuma berkutat di 3K melulu (kelas, kantin, kostan). Apalagi kalau kamu cuma datang terlambat lalu dosen menganggapmu alfa.

Dalam dunia kampus, ada beragam tipe mahasiswa. Ada yang Akademis, Aktivis, Apatis, Agamis, Hedonis bahkan mungkin ada yang Higienis hahaha.

Diantara berbagai tipologi tersebut yang sering menjadi sorotan hanya ada dua yakni, si akademis dan si aktivis. Si akademis ini sering disoroti karena prestasinya sedangkan si aktivis disoroti karena gerakannya. Keduanya terkadang juga saling "berbenturan" si akademis beranggapan "Buat apa kuliah sibuk berorganisasi, hanya menghambat dan menambah beban saja, fokus saja dengan kuliah toh tujuan kalian kan buat belajar (merugilah orang yang menyempitkan belajar hanya sebatas dikelas saja). Terlalu banyak ngurusin orang nanti kuliah terbengkalai hingga lulus terlambat dan kuliah tak beres-beres".

Sementara si aktivis beranggapan "Mahasiswa kalau cuma denger komat-kamit dosen dikelas lalu komat-kamitnya kamu tulis, setiap hari dijajah oleh tugas yang menumpuk dan kamu sibuk sehari hingga semalam suntuk untuk itu, sama saja dengan penjajahan dan apa bedanya mahasiswa dengan anak-anak sekolah kebanyakan jiga dari dulu begitu saja. Mahasiswa itu bukan kerbau yang disuruh langsung nurut saja. Persepsi ini dikeluarkan oleh masing-masing karena mereka punya alasan tersendiri.
Menyikapi benturan tersebut, kamu yang katanya dianggap "Agen Perubahan" bebas menentukan gerak langkah dan jalan hidupmu sendiri. Jelas bersikap Propesional dan Proposional kamu, yang harus kamu jadikan orientasi kedepannya bahwa setelah lulus nanti publik akan sangat membutuhkan kerja nyatamu bukan lembar ijazah mu. Mereka menanti perubahan bukan omong kosong belaka.

Dalam dunia pendidikan, tak ada pelajar yang bodoh. Mereka masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, yang menentukan mereka istimewa adalah pada porsi yang mereka kuasai yang biasa kita kenal dengan bakat. Sebagai mahasiswa kamu dituntut untuk berpikir luas dan keluar dari zona nyaman. "Out of the Box"  dengan melakukan kebiasaan yang belum pernah kamu lakukan. Kamu bisa mendongkrak potensimu dengan berbagai alternatif pendukung salah satunya aktif didunia kampus, entah itu kamu aktif dalam kepengurusan kelas, organisasi prodi, UKM dan mungkin organisasi ekstra kampus. Dengan begitu, potensi termasuk kecerdasanmu bisa semakin tereksplor dan tak mati bak bunga yang layu di gurun pasir.

So, buat kamu yang masih bingung apa manfaat menjadi seorang aktivis, yuk intip keuntungan-keuntungan berikut jika kamu menjadi aktivis:

1.Mendapat Komunitas Baru
Dalam organisasi pastinya banyak orang dari berbagai kalangan dan latarbelakang berbeda, ini seolah menjadi pembelajaran awal buatmu agar bijak dalam menyikapi keberagaman dan perbedaan. Selain itu, yang paling pasti kamu dapatkan adalah teman baru, kamu ditantang untuk mengasah kecerdasar intrapesonalmu juga menciptakan peluang baru serta kamu juga bisa memperluas jaringan.

2.Mengasah Jiwa Kepemimpinan
Tugas dan tanggungjawab organisasi memang melibahkan orang banyak, dalam organisasi seseorang dituntut untuk "Gila" karena dengan hal itu segala beban dan kesusahan dapat teratasi, kamu juga dituntut untuk cerdas dan tidak loyo setiap ada masalah. Sikap yang bakal kamu miliki juga dari organisasi adalah; tegas, berni, berprinsip, kreatif, inovatif, produktif serta kamu lebih siap menghadapi dunia.

3. Ilmu dan pengalaman baru
Pasti dalam setiap pertemuan entah itu formal ataupun santai mahasiswa tak lepas dari pertanyaan "lagi baca buku apa" atau ajakan untuk diskusi. Mahasiswa sering kumpul dan membicarakan perihal apa yang mereka baca serta berbicara tentang fenomena yang hari ini terjadi. Dari kegiatan sharing tersebut kamu tentu dapat pengetahuan dan pengalaman baru dari rekan organisasimu. Terlebih saat kamu tidak mengerti dengan penjelasan dosen mengenai suatu bahasan kamu bisa menanyakannya pada teman organisasi dan itu dirasa lebih nyaman karena kamu tidak dibatasi oleh durasi kelas.

4. Banyak Peluang untuk karier
Tentunya karena dalam organisasi dibekali dengan berbagai keterampilan kamu akan lebih tahu mengenai pemetaan bagaimana kariermu nanti berdasarkan apa yang kamu miliki. Selain itu, dengan menjadi aktivis kamu akan lebih cakap dalam berbagai hal dan sangat dibutuhkan oleh pasar/perusahaan saat kamu lulus nanti karena kamu telah dibekali soft skill mumpuni.
Siap unjuk gigi dan menjadi bagian dari perubahan Ilmu, pengalaman, teknik dan strategi adalah makanan sehari-hari dalam organisasi. Dengan demikian kamu akan lebih siap menghadapi tantangan karena telah mengantongi berbagai keahlian. Hingga feedbacknya kamu dapat berbagai kesempatan yang menguntugkan pastinya. Juga kamu dapat memberi manfaat terhadap sesama karena orang organisasi itu dituntut untuk berguna dalam segala hal.

Nah, itulah berbagai keuntungan yang akan didapat jika kamu berorganisasi. Intinya jika semua itu kamu lakukan dengan baik terutama kamu sangat menghargai proses kamu tak akan kebingunang akan jadi apa nanti setelah lulus. Karena bukan kamu yang butuh mereka tapi mereka yang membutuhkanmu.

Sumber: Kholid, Setia Furqon, 2009, Jangan Kuliah, Kalo Gak Sukses, Sumedang: Rumah Karya