Oleh: Gipal Purnama Anshari*
Hari Sumpah Pemuda memang sudah terlewat satu bulan yang lalu. Namun aromanya masih terasa hingga sekarang, bahkan sepanjang tahun.
Sumpah pemuda yang dideklarasikan delapan dekade terakhir sangatlah monumental dan (harusnya) menjadi cerminan setiap pemuda di Indonesia. Namun perlu disadari bahwa sebenarnya Sumpah Pemuda adalah kelanjutan dari keputusan Kongres Pemuda kedua 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi ini merupakan hasil dari Kongres Pemuda I pada April-Mei 1926. Tokoh-tokoh PPPI antara lain Sigit, Sugondo, Suwiryo, S. Reksodiputro, Muh. Yamin, Amir Syarifudin, dan sebagainya (wikipedia.com).
Inti dari isi sumpah pemuda adalah adanya gagasan mengenai cita-cita akan tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Ini menandakan adanya rasa nasionalisme yang kuat juga sumpah pemuda menjadi alat pengukuhan akan identitas bangsa Indonesia setelah mengalami berabad-abad lamanya Belanda menduduki wilayah Indonesia. Namun melihat pemuda hari ini sangatlah mengkhawatirkan, pemuda selalu disuapi makanan-makanan yang bersifat pragmatis, dan tidak substantif. Disadari atau tidak, Globalisasi dan neo liberalisme sangatlah berdampak besar terhadap berbagai macam sendi-sendi kehidupan, terutama dalam hal sosial budaya, meskipun ada pro kontra mengenai wacana globalisasi, setidaknya ada tiga bentuk teori mengenai globalisasi (Nur Sayyid Santoso Kristeva, 2007).
Ada para globalis optimis yang meyakini bahwa arah globalisasi akan membawa kepada satu titik di mana orang dan kelembagaan berjalan dalam satu jalan dengan tidak meninggalan adat atau budaya lokal, ada juga para globalis pesimis yang memandang negatif terhadap globalisasi. Mereka menyatakan bahwa Globalisasi hanyalah kedok negara-negara kapital untuk memeras berbagai kekayaan di negara-negara berkembang dengan alih-alih menampakkan kebudayaan yang sesuai dengan kebutuhan manusia di dunia. Yang terakhir ada golongan tradisionalis justru berbalik arah dengan golongan yang disebut di atas. Mereka tidak memandang globalisasi secara dogmatis, tetapi mereka menganggap bahwa globalisasi hanyalah sebuah mitos dan fenomena saja. Jika kita memakai perspektif orang-orang yang sinis terhadap Globalisasi ini sama halnya dengan teori hegemoni negara ala Antonio Gramsci (Dede Mulyanto, 2011).
Bagaimana kaum kapitalis butuh mereproduksi ulang kekuatan-kekuatan produksi seperti bahan baku, alat produksi, dan manusia. Berbeda dengan permesinan, pereproduksian ulang manusia haruslah memerhatikan aspek kesadaran. Salah satunya adalah bagaimana kelas penguasa membuat suatu kesadaran palsu yang tampak wajar bagi para pekerja, kenapa? Karena demi berlangsungnya mekanisme produksi di bawah tatanan kapitalisme. Nah, terbukti bahwa Globalisasi hanyalah suatu proyek penghisapan negara kapital terhadap negara-negara berkembang. Salah satunya adalah lewat penanaman nilai-nilai kesadaran kapitalistik lewat imprealisme khususnya dalam ranah sosial, budaya, pendidikan yang mengedepankan nilai suksesi pribadi individualistik.
Masuk kepada konteks sumpah pemuda, bahwa sumpah pemuda bukanlah pernyataan yang dihafal diluar kepala saja atau suatu peristiwa yang diromantisir dan tidak adanya suatu rekonstruksi kesadaran terhadap peristiwa tersebut, juga harus adanya sistem atau rekayasa sistem yang mengaktualisasikan mengenai nilai-nilai yang ada di dalam Sumpah pemuda dan peresapan yang mendalam mengenai makna Sumpah Pemuda. Karena ketika hasil reflektif yang didampingi aktualisasi (praxis) akan terpantul sebuah terobosan yang sangat ideal, khususnya dalam menanggapi berbagai problema atau isu-isu Nasional.
Sumpah pemuda yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan-pergerakan selanjutnya, kini tidaklah diperbincangkan secara serius. Bahkan hanya apabila ketika melihatnya dari kacamata kritis peringatan peristiwa Sumpah Pemuda hanyalah sebuah acara seremonial saja, padahal di dalam teks sumpah pemuda yang dimobilisator oleh pemuda Indonesia sangatlah komprehensif dan bersifat kepercayaan diri mengenai kebenaran, baik itu kebenaran mengenai kebangsaan Indonesia, bertumpah tanah air Indonesia, maupun berbahasa Indonesia. Juga harus adanya suatu terobosan baru mengenai interpretatif peristiwa sumpah pemuda yang tidak hanya meromantisir peristiwa tersebut tetapi kenapa dan bagaimana sumpah pemuda itu bisa terjadi. Seperti yang sudah dilansir oleh para sejarawan, Sumpah Pemuda merupakan tonggak akan rasa kesatuan Nasional. Tetapi perlu disadari juga bahwa para penggagas sumpah pemuda sangatlah antipati terhadap penghisapan, disintegritas, dan kolonialisme. Para aktor sumpah pemuda telah banyak memberikan nilai-nilai yang berharga.
Untuk mengaktualisasikan sumpah pemuda di dalam keseharian mungkin harus disadari terlebih dahulu secara kompleks dan keseluruhan akan pentingnya pengenalan identitas bangsa sendiri, karena dengan mengetahui identitas, kita tidak akan mengkhianati rasa identitas tersebut. Juga akan terbentuk aksi-aksi yang memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya khususnya di Indonesia.
*Kader Rayon Adab dan Humaniora Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Cabang Kabupaten Bandung
Minggu, 27 November 2016
Author: Unknown





0 komentar: