
Minggu 27 November 2016
Siang itu hujan turun dengan lumayan deras, sederas syukur yang ditimpakan hujan tersebut.
Seorang pemuda berjalan sambil mendorong motornya yang bannya bocor. Meskipun sedikit lelah, pemuda itu beruntung menemukan tukang ban yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat ban motornya sedang ditambal, pemuda itu berbincang dengan tukang ban sambil merokok bersama. Di kehangatan perbincangan, pemuda itu seketika melihat ada sebuah taman yang terpampang jelas namanya "Taman Pers Malabar" tak jauh dari tempat tambal ban.
"Itu belum selesai pembangunanya a, padahal itu sudah lama," kata si tukang tambal ban itu.
Setelah ditilik kembali, memang benar. Pagarnya belum selesai, lampu yang meneranginya pun belum menyala. Ditambah rumputnya belum begitu rapi. Yang lebih gawatnya lagi, fungsi taman ini belum bisa dimaksimalkan oleh warga sekitar karena setiap madingnya pun hanya berisi satu hingga dua potong tulisan dari koran. Itupun katanya hanya diisi oleh petugasnya. Kebanyakan warga memakai taman itu hanya untuk pacaran atau tempat makan untuk setiap warung yang berada disisi-sisinya. Apalagi di hari minggu, dipenuhi oleh orang-orang yang berjualan.
Konon padahal Taman Pers Malabar itu sudah diresmikan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, bersama para wartawan se-Kota Bandung. Namun yang terjadi adalah masih seperti yang terlihat oleh warga sekitar. Fungsinya belum berjalan maksimal dan sesuai.
"Walaupun begitu, syukurlah sudah mendingan sekarang mah cuma belum selesai, daripada dulu yang dimana taman itu tidak diurus dan kebanyakan ditempati dengan kegiatan yang tidak terpuji," lanjut si tukang ban tersebut.
Ia juga berharap semoga Pemkot Bandung dapat menyelesaikan secepatnya serta memaksimalkan fungsinya kembali. Sang pemuda mengamini apa yang dikatakan si tukang ban. Dan pemuda tersebut adalah Miftah Parid, Bendahara Umum PMII Komisariat UIN Bandung.
Minggu, 27 November 2016
Author: Unknown





0 komentar: