Bandung, Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melakukan Aksi di depan gedung rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jum’at (25/08/2017).
Aksi tersebut melibatkan hampir seluruh organisasi mahasiwa yang berada dibawah naungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Diantaranya PMII, HMI, GMNI, IMM, Hima Persis, dan organisasi mahasiswa lainnya. Masing-masing perwakilan oraginsasi melakukan orasi sebagai bentuk penyampaian kekecewaan dan aspirasinya.
Masa aksi meminta kejelasan atas aturan yang digunakan pada pelaksanaan PBAK 2017. Pelaksanaan PBAK dirasa telah mengkebiri hak-hak mahasiwa dengan diberlakukannya SK Dirjen 2016 tanpa sosialisasi terlebih dahulu kepada organisasi intra yang ada di UIN Bandung. Bahkan SK Dirjen tersebut belum di tanda tangani oleh rektor UIN SGD Bandung.
Dalam aksi tersebut masa aksi menuntut diantaranya transparansi kegiatan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan (PBAK) 2017 UIN SGD Bandung, wakil rektor tiga meminta maaf kepada mahasiswa, turun dari jabatannya, hapuskan jam malam, dan tidak melibatkan pihak kepolisisan dalam kegiatan-kegiatan yang ada di kampus UIN SGD Bandung.
Selain itu, kegiatan PBAK 2017 tidak seperti OPAK pada tahun-tahun sebelumnya. Pada PBAK kali ini mahasiswa diberatkan dengan biaya PBAK yang sangat mahal. Sedangkan mahasiswa tidak mendapatkan fasilitas apa-apa.
Tidak hanya mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa saja yang mengikuti aksi tersebut, melainkan mahasiswa baru pun ikut menyuarakan dengan mengikuti aksi tersebut. Karena mereka merasakan keresahan atas ketidakbecusan pihak birokrasi dalam pelaksanaan PBAK tersebut.
”Saya disini selaku perwakilan dari mahasiwa baru menuntut transparansi pelaksanaan PBAK. Bahkan tiga hari ini saya sama sekali tidak merasa bahwa saya sedang melakukan PBAK, karena sangat acak-acakan dan tidak terorganisir sama sekali”. Ujar salah satu mahasiwa baru, dalam orasinya.
Karena geram dengan birokrasi yang tidak kunjung turun dan melakukan audiensi dengan masa aksi, akhirnya masa aksi membungkus salah satu masa aksi menjadi pocong, yang menandakan telah matinya demokrasi di kampus UIN Bandung.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB ini berakhir sekitar pukul 19.30 WIB. Diakhir kegiatan masa aksi berhasil melakukan dialog dengan wakil rektor tiga yaitu Prof. Dr. Muhtar Solihin. Namun, mahasiwa kembali kecewa karena mereka merasa jawaban yang dilontarkan oleh wakil rektor tiga dirasa mengada-ada dan banyak yang bertentangan dengan realita yang telah dirasakan oleh mahasiwa.
Ketika tuntutan mahasiwa dilontarkan, wakil rektor tiga tersebut meninggalkan lokasi setelah mendengar tuntutan aliansi mahasiswa point ketiga, yaitu bahwasanya wakil rektor tiga harus mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, tuntutannya ditangguhkan dan akan dilakukan audiensi pada hari senin pukul 15.00 WIB di sekitar kampus UIN SGD Bandung.
(Dasem Miyasi)
0 komentar:
Posting Komentar