Sabtu, 08 Juli 2017

Waroeng Kopi In Absurdum

Oleh : Aris Hidayatulus (Kader PMII Rasyakum)

Di seduh dulu…satu hal yang mungkin tidak akan lepas dari campuran kopi dan gula yang hampir tiap hari kita lakukan. Ada yang di seduh dari kiri dan di putar ke kanan yang kemudian menghasilkan konsesus aroma kopi pergerakan. Sadar tidak sadar bahwa lingkungan telah membawa pengetahuan kearah yang lebih rill dan argumentative. Seperti hal nya warung kopi meski terlihat sederhana dan kampungan tapi mempunyai definisi yang banyak, contoh sederhana.

Ketika  istilah kopi di Tarik pada sejarah pra-kolonialisme atau sesudahnya itu mempunyai daya Tarik suatu bangsa yang pada akhirnya negara penjajah belanda jatuh cinta terhadap sumber daya alam kita termasuk tanaman kopi. Selain khasiat yang ada di dalam kopi tentunya kopi juga berangkat dari sejarah jatuh bangunnya negeri ini. Hal inilah yang mungkin menjadi argumentasi aku dan sahabat-sahabat PMII mendefinisikan kopi sebagai warisan pengetahuan dan nilai pergerakan.

Aku pikir membangun demokrasi ideal, sivil politik, kebebasan berpikir atau membicarakan hak-hak perempuan perlu ruang yang bebas untuk bisa menawarkan gagasan baru kedepannya, salah satu nya warung kopi meski di bangun tanpa konstitusi tapi mampu bersaing sacara intelektual gagasan di samping mempunyai moralitas dan kearipan local yang birokrat borjuis tidak ditanamkan. Karena bagi aku sekolah adalah jalanan dan warung kopi adalah tempat pertemuan ku dengan ide-ide. Tepat di suatu malam aku dan sahabat ku sedang asik guyon di warung kopi yang biasa kita jumpai.

Tiba-tiba melihat siaran berita terkait dengan proses pemanggilan yang di lakukan KPK terhadap salah satu anggota DPR-RI yang di duka menerima SUAP. Dengan melihat berita itu, selera ngopi aku berubah menjadi jijik dan jelas tidak nikmat dan langsung saja aku pindahkan saluran tv nya ke tv local. Kebetulan tayangan tv local tersebut menyiarkan alunan music punk. Salah satu nya adalah band molotov dengan judul dilemma negeri ini, beginilah kurang lebih liriknya:

"Lemahnya mental bangsa ini..Yang bangga menjadi kuli di negri sendiri.. Merajalelanya wabah korupsi.. Bangkitkan mentalitas rakus politisi.. Tak ada yang bisa di percaya.. Semua pentingkan dirinya.. Inikah sebuah fenomena.. Ataukah sebuah dilemma.. 

Mentari di awan yang hitam.. Lambangkan keburaman.. Yang samar menatap prestasi kedepan.. Hingga terlahir seorang yang militant.. Bangsa ini terus dijejali.. budaya mistik dan impian borjuis.. Televise hasilkan fantasi.. Hanyutkan rakyat kearah konsumerisasi."

Begitulah kata mereka, kegelisahan yang di kemas lewat music, seni dan penampilan yg sedikit ke punk-punk’an adalah bukti bahwa di balik pandangan negative masyarakat terhadap mereka ada pesan moral yang harus kita renungkan bersama bahawa nilai nilai kemanusiaan kepekaan lingkungan tidak di ukur dari bagaimana berpenampilan atau derajat pendidikan. Namun liriklah mereka dengan karya atas dosa para penguasa yang aristoktasi atau otoritarian, dan hal-hal seperti inilah yang sering sahabat-sahabat aku bicarakan dengan penuh canda dan tawa. Karena kalo serius kesan nya seperti di gedung DPR.. hehe.. maka dari itu kami tertawa ria.. hahaha..

Sedikit gambaran dari cerita di atas, bahwa persoalan yang universal berada dalam forum kecil , seperti halnya warung kopi, ruang diskusi terbuka yang sangat inheren jika analisis social, politik, ekonomi kita bejalan seirama dengan logika dan dealetika yang argumentative meski sedikit absurd. Aku harap tulisan sederhana ini bisa menanamkan benih kreasi dan inovasi yang berguna untuk semua.  


0 komentar:

Posting Komentar