Sabtu, 13 Mei 2017

Perempuan Dalam Tinjauan Gender

Oleh: Shona Aji

Pada tahun 2012, ketika penulis masih mondok di Pesantren Pulosari Garut, di hebohkan dengan kasus bupati Aceng Fikri yang menceraikan Fany Octora berusia 18 tahun dengan via sms. Kejadian ini menjadi trending topik pembicaraan masyarakat Garut, bahkan di kancah nasional kasus bupati Garut ini menjadi sorotan serius. Mungkin kalau sekarang, lebih tenar dari pada kasus Ahok. Untung saja tidak ada aksi solidaritas para perempuan. Berangkat dari kasus tersebut, para aktivis feminis, tokoh agama, para intelektual kembali membicarakan gender dalam perspektif Islam.

Kata Gender berasal dari bahasa Inggris “gender” berarti jenis kelamin. Dalam Women studies Encyclopedia di jelaskan bahwa gender adalah suatu konsep cultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, prilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat.

Sementara menurut Ali Engineer, seorang feminis muslim dari India. dalam hal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, setidaknya mengisaratkan dua hal. Pertama, dalam pengertiannya yang umum, ini berarti penerimaan martabat kedua jenis kelamin dalam ukuran yang setara. Kedua, orang harus mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang setara dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik. Keduanya harus memiliki hak yang setara untuk mengadakan kontrak perkawinan atau memutuskannya, keduannya harus memiliki hak untuk memiliki atau mengatur harta miliknya tanpa campur tangan yang lain, keduannya harus bebas memilih profesi atau hidup, keduannya harus setara dalam tanggung jawab sebagaimana dalam hal kebebasan.

Kodrat perempuan sering dijadikan alasan untuk mereduksi berbagai peran perempuan di dalam keluarga maupun masyarakat, kaum laki-laki sering dianggap lebih dominan dalam memainkan berbagai peran, sementara perempuan memperoleh peran yang terbatas di sektor domestik. Serta ditambah lagi, paradigma yang terbentuk di masyarakat, bahwa derajat laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan. Mereka meyakini, bahwa perempuan pertama (Hawa) di ciptakan dari tulang rusuk kanan Nabi Adam AS. Pemahaman yang menyatakan bahwa hawa wanita pertama di bumi, yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam AS masih dalam perdebatan para mufasir . Surah An-nisa ayat 1 tidak menyebutkan secara kronologis tentang proses penciptaan perempuan pertama, karena dalam Quran hanya menyebutkan bahwa “dari padanya, dia menciptakan pasangannya”.

kata min nafsi wahidah selalu di jadikan sebuah “argumentasi doktrional” bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Ayat tersebut tidak selalu di artikan secara tekstual. Menurut  Abu Muslim Al-Istafahani bahwa hawa tidak diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam AS, melainkan sebagai makhluk yang diciptakan dari jenis (jins) yang sama dengan Adam.  Pendapat ini, di amini oleh Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Al-Rozi dan Nasruddin Baidan. Al-Rozi menyatakan bahwa maksud kalimat “wa khalaqa minha zaujaha”, “Ha” kata ganti pada kata minha (dari padanya), bukan merujuk pada nabi adam, melainkan dari "jenis" (baca : Secara Majazi) Adam, yaitu tanah.

Gagasan tentang asal usul perempuan dari jenis yang sama dengan Nabi Adam AS, juga diikuti oleh para feminis Indonesia. Dengan mengutif Riffat Hassan dan Fatima Mernissi, kata Adam dalam istilah bahasa Ibrani berarti tanah -berasal dari kata adamah sebagian berfungsi sebagai istilah generic untuk manusia, bukan menyangkut jenis kelamin.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa perempuan di ciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, seperti Imam At-Thabari, Al-Alusi, Ibnu kastir, dan Al-Qurtubi. Namun bukan berarti bahwa kedudukan wanita-wanita selain hawa demikian juga, atau lebih rendah di banding laki-laki. Ini karena semua laki-laki dan wanita anak cucu adam lahir dari gabungan antara pria dan wanita. Karena itu tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara keduannya. Kekuatan laki-laki di butuhkan oleh wanita dan kelemah lembutan wanita di dambakan oleh laki-laki.

(Penulis adalah santri yang percaya bahwa
Laki-laki dan Perempuan mempunyai derajat yang sama dihadapam Tuhan)

Editor : Siti Adidah/Abdul Rokib


Author:

0 komentar: