Oleh: Shona Aji
Siapa yang tidak tahu Netzsche seorang ilmuwan yang terkenal sebagai pembunuh Tuhan yang menyatakan “Tuhan telah mati”. Perkataan Nitzsche jika di artikan secara tekstual, merupakan proporsisi elementer untuk menyatakan sikap Atheistiknya, di samping itu sepontanitas kaum beragama dalam menanggapi perkataan Nitzsche mendapati resistensi tinggi disertai “hujatan” dari berbagai agama di dunia. Namun, saya kira ada makna yang tersirat jika di pahami secara betul apa maksud dari pernyataan tersebut, meskipun di sisi lain, pernyataan tersebut telah mengotori kata sakralnya “Tuhan". Lantas, apakah kita harus mengikuti nasihat Ludwig Wittgenstein yang terkenal: Whereof one cannot speak, thereof one must be silent (Tentang yang tidak dapat dibicarakan, orang harus diam saja).
Dalam agama Islam, Sang pencipta berbeda dengan apa yang di “Cipta-Nya". Tuhan mustahil seperti makhluk (Laisa Kamislihi Syaiun) begitupun dalam ajaran Kristen, dalam Trinitas, tidak seperti makhluk yang mempunyai Bapak, Ibu dan Anak. Akan tetapi, menurut Dr. Haidir Bagir, mengutip perkataan Imam Al-Ghazali ia Merupakan Tauhid, yang disebutnya Aknum, satu dzat tiga sifat. trinitas adalah persatuan Jauhar dan Sifat dalam Satu Dzat. Dalam tauhid, Tuhan; (La huwa Hiya Wala Hiya Ghoiruhu ) artinya tiga (sifat) disana, adalah suatu kewajiban atas ajaran Monotheisme. Karna “satu” mustahil dapat dipisahkan dengan “tiga” untuk menyebutnya "Tuhan".
Menurut penulis, perkataan Nitzsche adalah perkataan yang “Luhur”, karna bukan tuhan yang ia bunuh. Tapi “cara ber-Tuhan” manusia yang ia bunuh. Ia mencoba untuk melepaskan Tuhan dalam kerangka definisi atau konsepsi manusia. Jika, Tuhan berada dalam kerangka konsep manusia maka ia telah menyamakannya dengan makhluk. Hanya orang yang bertuhan yang dapat membunuh Tuhan.
Menurut Harun Nasution, dalam Falsafat Agama (1979) Plato mengatakan, semua idea bersatu dalam idea tertinggi yang diberi nama idea kebaikan atau The Absolute Good yaitu yang mutlak baik. Yang mutlak baik itu juga disebut Tuhan. Dengan demikian, dalam perspektif ritualitas sosial, semua agama sama. Manusia mustahil dalam menelisik konsepsi “Tuhan”. Tuhan itu segalanya, akal manusia tidak mampu mengonsepsikan bagaimana Tuhan. Hal yang paling buruk, mengisndakan konsepsi Tuhan dalam “kekuasaan”. Sangat ironi, negeri Tuhan adalah Ilusi, secara idealisasi. Pada akhirnya, “Hasrat kekuasaan-lah" yang jadi panutan dalam mengonsepsi. Kebeneran Tuhan akan bias manakala disandingkan dengan institusi politik. Entah bagaimana dalam beragama, ketika seseorang membunuh atas nama Tuhan, atau membenci atas nama Tuhan, mengambil hak perogratif Tuhan, kala ia tak membela agamanya. Maka, ia beragama namun tak ber-Tuhan. Mencintai Tuhan adalah dengan menyenangkan makhluknya, bukan lantas dengan menindas makhluknya. karena dalam Islam, Agama adalah Cinta ( Ad-dinu huwal Hubb ).
Menurut Juhaya S Praja, dalam buku Filsafat Hukum Antar Mazhab-Mazhab Barat dan Islam, banyak ilmuwan barat seperti, Imanuel Kant, Thomas Aquinas, telah tiba pada kesimpulan bahwa Tuhan itu perlu ada, yang ia sebut (Necessary Being - wajibul wujud ). Selaras dengan hal tersebut, Anselmus sangat yakin bahwa “bodoh-lah orang yang mengatakan Tuhan itu tidak ada”, sebab di dalam diri setiap manusia memiliki “benih religius”. Hanya dengan “bertafakur”, Esensi Tuhan bisa di ketahui lewat apa yang di ciptakan-Nya. Setiap diri manusia mempunyai benih religius, karena Tuhan dalam agama Islam lebih dekat dari pada urat nadi, lalu (man aropa nafsahu wa man arofa robbahu) adalah fase dimana kita berproses mengimani Tuhan. Dimulai dengan perkataan skeptis “siapakah aku?” yang selalu sombong. Bukankah aktivitas keseharian kita bersanding dengan “qudrot nya Allah”, begitu sombongnya kita?, mengambil hak kepemilikan-Nya. Meskipun, dalam Bayan ada Isnad Majaz Aqli tapi siapa yang tahu “keimanan”. Bahwa, “wajibul al-adabu maa Allah”, bagaimana selanjutnya, kita menempatkan Allah diatas segalanya.
Seharusnya, Hati itu bergetar ketika mengucapkan kata “Allah”, bukan disandingkan dengan “kebencian pada Makhluk-Nya” ketika mengucapkan kalimah Takbir. Karena, kalimah takbir (Allahu Akbar) adalah refleksi Cinta kepada Tuhan.
Seperti perkataan Rene Descartes "Karena keniscayaan Tuhan itu menentukan aku untuk berpikir". Maka, dalam artian "aku berpikir demikian” tanda bersanding dengan “kehadiran Tuhan”.
Minggu, 21 Mei 2017
Author: Unknown





Tulisannya keren,seperti penulisnya
BalasHapus