Senin, 26 Desember 2016

Pandangan Para Nabi dan Sahabat Mengenai Penistaan Agama




Oleh: Ahmad Miftahul Falah*

Dalam masalah ini, Indonesia sedang marak dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok terhadap surat Al-Maidah ayat 51. Berawal dari sebuah video viral ketika Ahok mengatakan: “Jangan mau dibodohi pakai surat Al-Maidah….” di Kepulauan Seribu ini mendapatkan respon yang sangat luar biasa dari umat muslim di Indonesia ketika itu. Sehingga umat muslim Indonesia mengadakan Aksi Bela Islam yang dimotori oleh Ketua Umum FPI, Habib Riziek. Tidak hanya dari FPI saja, tetapi berbagai ormas dan partai Islam pun ikut serta dalam Aksi Bela Islam yang sudah dilakukan pada tanggal 4 November dan 2 Desember dalam hal menuntut agar penistaan yang dilakukan oleh saudara Ahok segera ditindak lanjuti dan diadili dengan seadil-adilnya.

Masalah penistaan agama bukanlah hal yang baru saja terjadi di masa ini, tetapi sejak dahulu dari zaman kenabian penista agama sudah ada. Karena memang sejarah akan terulang kembali dengan kata lain sejarah akan menganalogi waktu. Dan bagaimanakah sikap para Nabi dan Sahabat dalam menghadapi para penista agama?

Dalam hal ini Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud: “Usai perang Badar, Rasulullah SAW minta pendapat kepada para Sahabatnya: Bagaimanakah pendapat kalian mengenai para tawanan ini? Lalu Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka ini kaummu, dan keluargamu. Biarkalah mereka hidup! Dan mohonlah taubat untuk mereka! Agar Allah menerima taubat mereka. Kemudian Umar berkata: Wahai Rasulullah, mereka itu telah mendustakanmu, mengusirmu. Hampirilah mereka, dan penggalah leher mereka! Lalu Abdullah bin Rowahah berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berada di perlembahan yang banyak kayu bakarnya. Nyalakan saja lembah ini dengan api, lalu lemparkanlah mereka ke dalamnya!
Kata Abdullah bin Mas’ud: Rasulullah SAW diam tidak mengucapkan sepatah kata pun, beliau masuk ke rumah. Kemudian orang-orang berkata: Rasulullah mengambil pendapat Abu Bakar. Sebagian berkata: Rasulullah mengambil pendapat Umar. Dan sebagian berkata: Rasulullah mengambil pendapat Abdullah bin Rowahah. Kemudian Rasulullah SAW keluar rumah seraya berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan kelembutan pada sanubari para lelaki, sehingga lebih halus dari pada susu. Dan menciptakan ‘keras’ pada hati para lelaki, sehingga lebih keras dari pada batu. 

"Wahai Abu Bakar, orang yang sama denganmu ialah Ibrahim tatkala bermunajat:
{Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya termasuk golonganku, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang}

Dan juga sama dengan Isa bin Maryam tatkala bermunajat: {Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu (sayangilah), dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau maha Agumg dan Bijaksana}

Dan orang yang sama denganmu wahai Umar, ialah Nabi Nuh AS tatkala bermunajat: {Tuhanku, jangan kau biarkan orang-orang kafir jadi penghuni bumi}

Dan juga semitsal Musa tatkala bermunajat: {Tuhan kami, buatlah harta Fir’aun tidak berharga.
[tafsir al Wasith by Sayid at Thontoowi hal: 1868, juz: 1]

Dalam potongan hadits tersebut para sahabat dianalogikan oleh Rasulullah SAW dari pandangan para Nabi sebelumnya, bahwa seperti itulah para nabi menghadapi para penista. Ada yang memang sangat tegas dengan setegas-tegasnya sehingga para penista tidak diberi ampun dalam artian harus dibunuh, seperti pendapat Umar tadi. Dan ada juga yang lunak, sehingga diberikan kompensasi atau keringanan terhadap para penista, seperti pendapat Abu Bakar. Dari sinilah Rasul lebih cenderung terhadap pendapat Abu Bakar, agar mengampuni para tawanan Badar.

Kemudian dalam tafsir At-Thobari juz: 14, hal:62 bahwa setelah Rasul menetapkan para tawanan Perang Badar agar dibebaskan, keesokan harinya Umar mendatangi Rasul dan mendapati Rasul duduk bersama Abu Bakar yang menangis, lalu Umar berkata: Wahai Rasulullah, beritahu aku apa yang membuatmu dan sahabatmu menangis? Rasul berkata: aku menangis karena keputusanku terhadap sahabat-sahabat diambil fida/tebusan dari para tawanan perang badar, padahal sungguh telah dilihatkan kepadaku siksaan yang akan menimpa kalian lantaran dari hal ini yang lebih dekat dari pada pohon ini.(ketika itu Rasul sedang duduk didekat sebuah pohon) Dan Allah telah menurunkan ayat kepadaku yang berbunya: Tidaklah pantas bagi para Nabi memberikan keringanan kepada para tawanan begitu saja.

Dalam ayat ini sudah jelas, bahwa Allah tidak menggunakan kata janganlah karena memang para nabi sebelum Muhammad sebagian ada yang memberikan ampunan terhadap para penista agama maka dari itu ayat ini menggunakan kata tidaklah dengan memakai bahasa yang diplomasi. Dan dari semua pernyataan tadi kita analisis, apakah pendapat Abu Bakar cenderung salah atau tidak? Menurut kontek ayat yang di atas tidaklah tepat dengan pendapat Abu Bakar, lantaran Al-Qur’an yang membantahnya. Dan apakah Abu Bakar mendapatkan dosa karena kesalahannya dalam menanggapi para penista ataupun tawanan? Jelas tidak, karena pendapat Abu Bakar berangkat dari Ijtihad “In Ashobaa falahu ajrooni wa in akhtoa falahu ajrun waahid” Yang artinya, apabila ijtihad itu tepat maka mendapat dua pahala dan apabila tidak tepat maka mendapat satu pahala. Jadi, tidaklah sesat apabila ijtihad tersebut tidak tepat.

Jadi, dalam konteks ini walaupun kita suka terhadap Habib Riziek dalam hal ini kita tidak perlu mencaci atau menghina kepada Said Aqil Siraj, Gus Mus dan sebagian umat muslim yang tidak sepandang dengan Habib Riziek. Toh mereka berpendapat seperti Abu Bakar, Nabi Ibrahim dan juga Nabi Isa yang sudah ada sebelum kasus ini. Dan jikalau kita sependapat dengan Said Aqil Siraj, Gus Mus dan sebagian umat muslim yang sepandang, kita juga tidak perlu mencaci atau menghina Habib Riziek dan sebagian umat yang sepandang dengannya, karena memang Umar, Nabi Nuh, dan Nabi Musa sependapat dengan Habib Riziek. Insya Allah sikap seperti itu moderat yang merupakan tanda utama dari kaum muslimin “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathon

Habib Riziek mereun nu ngahurungkeun seneuna ari Said Aqil Siroj, Gus Mus sebagai blowerna nu rada ngaiuhan, atuh mereun mun kabeh ngahurungkeun seneu matak Indonesia kahuruan jeng mun tiis teuing matak betah, sehingga eweuh pergerakan..” ujar kang Ii Ruhimta, seorang penulis buku Kisah Para Salik.


*Penulis adalah Kader Rayon Adab dan Humaniora Komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung


Author:

0 komentar: