Senin, 26 Desember 2016

Green Campus UIN Bandung Bukan Parkiran Kampus


Oleh: Zalfah Alin Syarif*

Green campus atau kampus hijau mungkin sudah banyak yang mendengar tapi hanya dijadikan slogan semata, tanpa adanya tindakan yang nyata untuk mewujudkannya. Bahkan masih banyak yang belum mengerti dan belum paham apa arti dari green campus. Green campus adalah pembangunan lingkungan disekitar area sekolah dengan berbasis penghijauan. Teringat bahwa bumi kita sedang mengalami krisis karena di tebangnya hutan hutan yang membuat makhluk bumi menjadi kritis.
Namun bagaimana jika sebuah kampus yang terlihat hanya khusus parkiran saja, sama sekali tidak ada kata untuk memajukan dalam penghijauan? Nah, disini saya akan membahas tentang bagaimana pihak kampus Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung membuat struktur kampus jauh dari kata “hijau”.

Permasalahan yang pertama jika dilihat dari segi parkiran yang tidak bisa menampung volume kendaraan mahasiswa dan pengajar yang jumlahnya mencapai kurang lebih 8.000 jiwa yang setiap harinya memasuki area kampus dengan total tanah seluas 67.822 m2. Jika setengah penghuni kampus UIN Bandung membawa satu kendaraan, tidak bisa di bayangkan betapa sesaknya tanah yang kosong dipadati oleh ribuan kendaraan.

Jika mahasiswa selesai menimba dan mencari ilmu, pasti ada saja kendala jika hendak ingin mengeluarkan kendaraan yang notabane mahasiswa membawa motor. Hal ini disebabkan karena sepeda motor berdempetan dengan kendaraan mahasiswa yang lainya. Hal itu juga disebabkan oleh mahasiswa/i menaruh atau meletakkan motor di sembarang tempat dan tidak tersusun dengan rapi. Bukan malas untuk menjadi rapi, tapi tidak ada pilihan lain jika tidak menjejalkan sepeda motor dilahan yang sempit, karena sudah sesak oleh kendaraan.

Bangunan yang berupa gedung di UIN Bandung kurang lebih 26 bangunan, yang kebanyakan jarak antara satu gedung dengan gedung yang lainnya tidak sampai 15 meter. Jika hanya ada 10 meter atau 7 meter yang dipakai untuk parkiran sangat tidak akan cukup menampung 50 kendaraan. Lalu dimana sisa kendaraan lainnya terparkir? Waallahu’alam.

Belum lagi parkiran yang jauh dari kata aman, dan nyaman. Seperti tidak adanya atap untuk parkiran (sebenarnya ada atap parkiran khusus Rektor dan wakil rektor saja), CCTV,  dan ada juga beberapa petugas yang curang dengan cara menarikkan uang parkir kepada mahasiswa terutama di area Gedung U dan Gedung Student Center.

Mungkin sudah puluhan mahasiswa/i yang kehilangan motor dan helm saat di parkiran. Banyak yang mengeluhkan masalah ini sejak lama, karena tidak ada tindakan tegas dari para petugas keamanan kampus menyikapi pencurian motor dan helm ini. Saya sendiri pernah melihat ada dua orang berumur sekitar 30-an di sekitar area parkiran belakang gedung Fakultas Syariah dan Hukum, dengan gerak gerik mencurigakan. Saat itu pula ada dua orang petugas keamanan yang tidak merespon kedua orang tersebut. Mungkin pelaku tidak jera oleh perbuatannya, karena mereka menilai petugasnya saja membiarkan aksi ini berulang malah memberikan kesempatan.

Pertanyaannya, mengapa oh mengapa pihak keamanan kampus tidak menaikkan standar fasilitasnya? Kalau mereka malas untuk menjaga amanah yang diberikan oleh pihak kampus. Jika masalah ini terus berulang maka akan menimbulkan suatu akibat, entah kecurigaan yang berdampak buruk kepada para petugas keamanan, atau kepada sesama mahasiswa yang lainnya.

Jika hanya melihat krisis lahan parkir, UIN Bandung juga mempunyai Krisis lahan diskusi. Padahal kampus merupakan ruang berfikir nyata mahasiswa untuk menuangkan seluruh ide dan kratifitas di tanah kampusnya sendiri. Jika ada yang bertanya kepada mahasiswa UIN Bandung “Dimana kamu biasa ngopi (ngobrol pintar)?” Mereka kebanyakan menjawab “Belakang gedung kuliah, pinggiran jalan, atau atap rumah warga”, mungkin pernyataan terakhir hanya lelucon tapi tidak tahu kalau besok.

Itu mungkin sedikit kritikan dari saya, bukan untuk menjatuhkan tapi untuk mendewasakan dan menjadi lebih baik ke depannya. Karena mahasiswa disini untuk belajar dan menilai dalam setiap sudut lingkungannya, seperti disuruh membuat skripsi yang wajib menganalisis permasalahan di kehidupan masyarakat. Waallahul muwaffieq illa aqwamithoriq.


*Penulis merupakan Kader Rayon Dakwah dan Komunikasi Komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung

Author:

0 komentar: