Bandung, PMII ZONE - Seringkali JIL (Jaringan Islam Liberal) dikaitkan
dengan islam yang sesat dan membahayakan, karena menurut paham mereka Islam
bukanlah mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits, melainkan mengikuti nalar dan rasio
dalam pemikiran setiap individunya. Tapi
benarkah anggapan selama ini yang digembar-gemborkan bahwa JIL dicap masyarakat
seperti yang dikatakan selama ini?
HMJ-PMH (Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab
dan Hukum) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyelenggarakan Diskusi Lintas
Mazhab (Senin, 9/05) antara Dr. Ulil Abshar Abdalla, seorang tokoh JIL; Dr. KH.
Jalaludin Rahmat, M.Sc, seorang tokoh Syiah; Dr. Marzuki Wahid, tokoh NU; dan Drs.
H. Ayat Dimyati, tokoh Muhammadiyah. Yang kita tahu bahwa dewasa ini kita
melihat banyak sekali perbedaan-perbedaan yang banyak mengalir dalam wacana
masyarakat Islam, bahwa aliran-aliran tertentu memiliki kesalahan akan
pemahaman Islam itu sendiri.
Menurut salah satu panitia Diskusi Lintas Mazhab,
Fazri Al-Givari, menyatakan bahwa tujuan diadakannya diskusi kali ini, yakni
untuk membuka wawasan intelektual masyarakat tentang aliran yang kerap kali
dicap sesat oleh masyarakat.
“Kita juga ingin bersilaturahmi sesama para pemikir Islam
di Indonesia khususnya, menjunjung tinggi toleransi bermazhab, serta mengubah pandangan
masyarakat bahwa perbedaan dalam pemikiran seseorang tidak harus ditakuti atau
dibenci, melainkan dihargai,” ujar Fazri saat diwawancarai di kediamannya.
Banyak yang tidak setuju akan kehadiran Ulil Abshar
Abdalla yang biasa dipanggil Mas Ulil, sang tokoh JIL di UIN Bandung. Hal tersebut
terlihat jelas dengan dibuatnya FansPage yang diberi nama UIN SGD BANDUNG TANPA
JIL di media sosial facebook, serta BC-an di blackberry massenger dari mahasiswa
yang mengatasnamakan Mahasiswa jurusan PBI, bahwasanya mereka menolak keras
kehadiran Mas Ulil di UIN Bandung.
“Karena banyak yang menolak kehadiran Mas Ulil, kami
selaku panitia akan mengadakan konferensi pers di Gedung SC Uin lantai 1, pada
hari Sabtu (07/05). Untuk mengetahui alasan ormas-ormas, atau organisasi
tertentu yang menolak Mas Ulil di kampus kita ini, dan kita akan menjelaskan kekhawatiran mereka, bahwa Mas
Ulil tidak akan membawa keresahan iman bagi masyarakat,” tambah Fazri.
Andri Amin Tawakal, salah satu mahasiswa yang setuju akan
kehadiran Mas Ulil di UIN Bandung, menganalogikan diskusi yang akan dibawa oleh
HMJ-PMH seperti minuman kopi. “Jika kalian diajak minum
kopi bersama, lalu kopi yang dibawa teman Anda tidak sesuai dengan selera Anda,
maka jangan diminum, Anda hanya perlu membeli kopi sesuai dengan selera Anda,” ujar
Andri dengan mantap. (alin)






0 komentar: