Sabtu, 07 Mei 2016

Ulil Abshar Abdalla "Dikecam" Masuk UIN Bandung


Bandung, PMII ZONE - Seringkali JIL (Jaringan Islam Liberal) dikaitkan dengan islam yang sesat dan membahayakan, karena menurut paham mereka Islam bukanlah mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits, melainkan mengikuti nalar dan rasio dalam pemikiran setiap individunya. Tapi benarkah anggapan selama ini yang digembar-gemborkan bahwa JIL dicap masyarakat seperti yang dikatakan selama ini?

HMJ-PMH (Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyelenggarakan Diskusi Lintas Mazhab (Senin, 9/05) antara Dr. Ulil Abshar Abdalla, seorang tokoh JIL; Dr. KH. Jalaludin Rahmat, M.Sc, seorang tokoh Syiah; Dr. Marzuki Wahid, tokoh NU; dan Drs. H. Ayat Dimyati, tokoh Muhammadiyah. Yang kita tahu bahwa dewasa ini kita melihat banyak sekali perbedaan-perbedaan yang banyak mengalir dalam wacana masyarakat Islam, bahwa aliran-aliran tertentu memiliki kesalahan akan pemahaman Islam itu sendiri.

Menurut salah satu panitia Diskusi Lintas Mazhab, Fazri Al-Givari, menyatakan bahwa tujuan diadakannya diskusi kali ini, yakni untuk membuka wawasan intelektual masyarakat tentang aliran yang kerap kali dicap sesat oleh masyarakat.

“Kita juga ingin bersilaturahmi sesama para pemikir Islam di Indonesia khususnya, menjunjung tinggi toleransi bermazhab, serta mengubah pandangan masyarakat bahwa perbedaan dalam pemikiran seseorang tidak harus ditakuti atau dibenci, melainkan dihargai,” ujar Fazri saat diwawancarai di kediamannya.

Banyak yang tidak setuju akan kehadiran Ulil Abshar Abdalla yang biasa dipanggil Mas Ulil, sang tokoh JIL di UIN Bandung. Hal tersebut terlihat jelas dengan dibuatnya FansPage yang diberi nama UIN SGD BANDUNG TANPA JIL di media sosial facebook, serta BC-an di blackberry massenger dari mahasiswa yang mengatasnamakan Mahasiswa jurusan PBI, bahwasanya mereka menolak keras kehadiran Mas Ulil di UIN Bandung.

“Karena banyak yang menolak kehadiran Mas Ulil, kami selaku panitia akan mengadakan konferensi pers di Gedung SC Uin lantai 1, pada hari Sabtu (07/05). Untuk mengetahui alasan ormas-ormas, atau organisasi tertentu yang menolak Mas Ulil di kampus kita ini, dan kita akan  menjelaskan kekhawatiran mereka, bahwa Mas Ulil tidak akan membawa keresahan iman bagi masyarakat,” tambah Fazri.

Andri Amin Tawakal, salah satu mahasiswa yang setuju akan kehadiran Mas Ulil di UIN Bandung, menganalogikan diskusi yang akan dibawa oleh HMJ-PMH seperti minuman kopi. “Jika kalian diajak minum kopi bersama, lalu kopi yang dibawa teman Anda tidak sesuai dengan selera Anda, maka jangan diminum, Anda hanya perlu membeli kopi sesuai dengan selera Anda,” ujar Andri dengan mantap. (alin)

Author:

0 komentar: