Selasa, 09 Februari 2016

Mahasiswa Teralienasi Di Kampus


Oleh: Abdul Rokib (Kader Ideologis PMII RDK)

Istilah alienasi (terasing) sebenarnya telah lama ada dalam perbendaharaan diskursus pengetahuan. Istilah ini bisa kita identifikasi dari berbagai literatur, terutama dari literatur-literatur kajian yang dicap kiri. Adapun salah seorang peletak dasar konsep alienasi yang termashur pada jamannya yaitu Ludwig Feurbach, dan Karl Marx.

Alienasi dalam kritik agama Ludwig Feurbach

Konsep alienasi Feurbach sebenaranya identik dengan Kritik Agama yang digagasnya. Karena Feurbach adalah seorang penganut filsafat materialisme, sehingga gagasan-gagasan pemikirannya bertitik tolak pada kerangka berfikir materialisme. Filsafat materialisme ialah cara berfikir yang bertitik tolak pada dasar materi (keadaan obyektif) yaitu bahwa materi itu adalah primer, sedang ide (pikiran) adalah sekunder (Darsono, 2012:32).

Menurut Feurbach, sebagaimana dikutip oleh Frans Magnis Suseno (1999:68) "Inti kritik tersebut adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia".

Kritik agama dari Feurbach, sebenarnya merupakan bentuk kritik atas para filosop yang "terpukau" oleh gagasan-gagasan filsafat G.WF. Hegel, yang mendominasi pada waktu itu. Meskipun Feurbach adalah salah satu murid Hegel, tetapi dia tidak menerima begitu saja semua gagasan Hegel. Ungkapan Hegel yang terkenal yaitu "Yang sempurna dalam pikiran, sempurna pula dalam kenyataan" (Bagus, 2003:54).

Filsafat Hegel yang bertumpu pada Idealisme dianggap oleh Feurbach menjadi permasalahan kesenjangan yang terjadi antara pikiran dan realitas, kesempurnaan dalam pikiran tidak berbanding lurus dengan keadaan sosial yang sesungguhnya. Oleh sebab itu tampilah seorang filosop selanjutnya yang dianggap karena buah pikirannya dia merupakan "ide bergentayangan yang sedang menghantui Eropa". Dialah Karl Marx.

Alienasi dalam kritik masyarakat Karl Marx

Bila analisis Feurbach mengenai keterasingan yang dianggapnya disebabkan oleh agama, Karl Marx melihatnya dengan sudut pandang (point of view) yang lain. Meskipun beberapa literatur menyebutkan bahwa Marx adalah murid Hegel sekaligus Feurbach. Dengan demikian Marx dapat dikatakan murid Hegel dan Feurbach. Ketiga pemikir itu merupakan pemikir terbesar pada zamannya, Hegel terkenal karena metode berfikir dialektikanya, Feuerbach karena filsafat materialismenya, dan Marx terkenal karena materialisme dialektikanya (Darsono, 2012:27).

Sebelum lebih jauh membahas mengenai penyebab keterasingan dari Marx, ada baiknya kita perlu membedakan terlebih dahulu filsafat materialisme Feuerbach dan Marx. Supaya mengklarifikasi isu di masyarakat yang menyatakan bahwa Marx adalah seorang penganut ateisme (tidak beragama). Menurut Franz Magnis Suseno, dalam buku PEMIKIRAN KARL MARX: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, menyebutkan bahwa "Marx memakai kata materialisme bukan dalam arti filosofis, sebagai kepercayaan bahwa hakikat seluruh realitas adalah materi, melainkan ia ingin menunjuk faktor yang menentukan sejarah".

Sebagai salah satu pewaris tradisi filsafat kritis, Marx juga melalakukan kritik terhadap Hegel dan Feuerbach. Kritik Marx terhadap Hegel yaitu tentang filsafat idealismenya, sebagaimana dilakukan juga oleh Feuerbach. Menurut Marx, "Selama ini para filosof hanya menafsirkan dunia, padahal yang terpenting adalah merubahnya". Atas dasar ini beberapa penulis menyebut bahwa bila tanpa Marx abad ke 20 tidak akan seperti ini. Karyanya yang terkenal sebagai kitab suci kaum komunis "Manifesto Partai Komunis" yang di tulis Marx dan Frederich Engels mengilhami revolusi-revolusi di berbagai dunia, salah satunya revolusi di Jerman pada tahun 1917, yang dipimpin oleh V.L. Lenin.

Kembali lagi pada konsep keterasingan Marx, bila Feuerbach menyatakan bahwa sumber segala hal yang menyebabkan manusia terasing adalah agama. Marx berpandangan lain, menurutnya agama hanyalah pelarian dark keterasingan, karena realitas tidak memungkinkan untuk orang itu untuk mengembangkan potensi alamiah kemanusiaannya, oleh sebab itu agama hanyalah dijadikan pelarian. Dengan asumsi seperti itu munculah istilah "agama adalah candu rakyat". Agama adalah sekaligus ungkapan penderitaan yang sunggug-sungguh. Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat (Marx dan Engel, 1844).

Jadi, perlu dipahami juga bahwa kritik agama yang dilakukan oleh Marx adalah bersifat sekunder, adapun yang primer adalah realitas masyarakat. Inilah titik pijak yang kemudian membuat Marx mengkonsepsikan sumber segala keterasingan.

Ada beberapa tahapan pemikiran Marx melihat sumber keterasingan. Pertama, Marx melihat bahwa negara merupakan simbol keterasingan manusia. Kedua, ia melihat ada hal yang lebih spesifik dari negara. Karena untuk menjelaskan ini semua harus dibahas konsep manusia yang kongkrit, bukan konsep manusia yang abstrak sebagaimana Feuerbach dengan kritik agamanya. Pekerjaan adalah tindakan manusia paling dasar: dalam pekerjaan, manusia membuat dirinya menjadi nyata (Franz, 1999:89). Dengan ini Marx melihat bahwa watak dasar manusia adalah bekerja, hakikat manusia yang sesungguhnya adalah bekerja. Manusia pekerja (hommo faber) menjadi titik tolak dari  seluruh inti pemikiran Marx.  Dengan bekerja, manusia dapat mengobjektivasi hakikat kemanusiaanya. contoh, seorang pelukis melukis keindahan alam. Hasil lukisan tersebut merupakan objektivasi antara yang dipikirkan oleh pelukis lalu kemudian di wujudkan dalam bentuk lukisan alam yang menjadi hasilnya. Manusia tidak bisa dipisahkan dari objek ciptaanyaa sendiri.

Tetapi sistem ekonomi kapitalisme telah meluluh lantahkan itu semua (hakikat kemanusiaan),  hasil produksi yang dibuat oleh buruh menjadi simbol ketersingan manusia, hasil dari keringat buruh tersebut diambil oleh kapital (pemilik modal) dan di gantikan dengan upah yang tidak sesuai dengan hasil pekerjaanya. Upah yang didapatkan oleh buruh hanya mencukupi untuk menyambung hidup buruh itu, tetapi nilai lebih dari pekerjaan itu diambil seluruhnya oleh kapital. Bisa ditarik kesimpulan bahwa hal yang membuat manusia terasing dari hakikat kemanusiaanya adalah sistem ekonomi kapitalisme yang telah mencerabut sifat alamiah manusia.

Mahasiswa yang teralienasi dari hakikat kemahasiswaanya.

Sampailah kepada objek pembahasan yang ingin penulis sampaikan. Melihat realitas hari ini penulis melihat adanya ketegangan kontradiksi yang nyata dari yang ada dan yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa.

Keadaan mahasiswa hari ini telah tercerabut dari hakikat kemahasiswaanya. Mahasiswa sebagai agent social of change, agent of control, dan moral force, hanyalah mitos belaka bagi sebagian orang. Mengingat dampak dari proses globalisasi yang sedang berlangsung berimbas juga pada pola pikir mahasiwa hari ini. Padahal sebagai middle class, antara penguasa dan rakyat bawah, dalam sejarah perubahan sosial di negeri ini mahasiswa telah mempunyai peranan yang sangat penting, mengutip istilah dari Soekarno "penyambung lidah rakyat".

Sebagai bukti ril dilapangan yang terjadi yaitu peristiwa reformasi 1998, mahasiswa telah berhasil menjatuhkan rezim orde yang tekenal otoriter, dan berkuasa selama kurang lebih 30 tahun di bawah pimpinan presiden Soeharto. Mahasiswa angkatan 98 telah. membuktikan bahwa mahasiswa mempunyai kekuatan "revolusioner"  luar biasa, dari fungsi-fungsi mahasiwa  yang hari ini dijadikan mitos belaka. Apa yang membuat mahasiswa angkatan 98 tercatat dalam sejarah bangsa ini? Bahwa mahasiswa pada waktu itu peka terhadap realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Bagaimana keadaan mahasiswa hari ini? Mahasiswa hari ini disibukan dengan hal yang tidak substanstif, sehingga membuat mahasiswa "terasing" dari hakikat kemahasiswaannya.

Bila Feuerbach dan Marx menganalisis keterasingan manusia secara keseluruhan, penulis hanya mencoba menganalisis keterasingan mahasiswa, karena penulis sadar betul akan kurangya kapasitas untuk membedah permasalahan tersebut.

Kampus (perguruan tinggi), mempunyai tugas untuk menyelenggarakan Tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran; penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Berbicara tentang kampus, semua elemen didalamnya termasuk mahasiswa memikul tugas menyelenggarakan Tridharma perguruan tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent social of change, agent social of control, dan moral force bukanlah lahir dari ruang hampa. Bukanlah mitos, itu merupakan tugas yang mau tidak mau, suka tidak suka Tridharma merupakam titik pijak mahasiswa untuk peka terhadap realitas masyarakat.  Dalam Tridharma ada point pengabdian terhadap masyarakat. Penulis tidak akan mengupas dua poin pertama dari Tridharma, kerena kedua point ini rutinitas mahasiswa yang lazim dilakukan setiap harinya.

Pengabdian terhadap masyarakat, merupakan pengejawantahan dari pendidikan dan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam hal ini, pengabdian terhadap masyarakat merupakan hakikat mahasiswa yang sesungguhnya. Bila Marx menemukan titik terang segala sumber keterasingan manusia disebabkan oleh sistem ekonomi kapitalisme, lalu kita bertanya apa yang membuat mahasiswa terasing dari hakikat sesungghunya, yaitu salah satunya pengabdian terhadap masyarakat?.

Alasan kenapa pengabdian merupakan hakikat dari mahasiswa, yaitu sebagai bentuk objektivasi dari proses pendidikan yang dilakukan di kampus. Bila pengabdian tidak dilakukan sama halnya dengan pekerja yang terasing dari barang hasil buatannya. Karena hari ini mahasiwa lebih terpaku untuk bagaimna mendapat IPK besar demi cita-cita individunya. Oleh karena itu perlu adanya rekayasa kurikulum untuk mahasiswa supaya degradasi pola pikir ini tidak berlangsung terus-menerus. Meminjam istilah Paula Freire, harus ada penyadaran kepada peserta didik supaya sampai pada tahapan "kesadaran kritis". Bisa disimpulkan sementara bahwasanya mahasiswa yang terasing itu adalah mahasiwa yang tidak peka terhadap realitas masyarakat, dan mengisolasikan diri di kampus. Padahal, jerit tangis masyarakat diluar sana masih terdengar.

Author:

0 komentar: