Rabu, 10 Februari 2016

Deisme

Oleh: Muhammad Syamsul Aimmah*

-Saya sedang mencoba menjelaskan pengertian Deisme melalui cerita.-

Anggun pulang membawa kesedihan-kesedihan di dalam hatinya. Dari waktu ke waktu, Anggun hanya bisa melamun dan sesekali menangis. Ia meratapi kejadian-kejadian waktu itu yang membuat sahabatnya meninggalkan dunia dengan darah yang tercecer di kepala dan hatinya. Anggun merasa terpukul. Sahabat yang sangat ia cintai kini telah tiada untuk waktu yang sangat lama, selama-lamanya. Anggun akan selalu meneteskan air matanya jika mengingat kejadian waktu itu.

Ketika sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi membentur tubuh sahabatnya yang hendak ingin menyebrangi jalan untuk menemuinya. “Kenapa tidak aku saja yang mencoba untuk menyebrangi jalan dan menemuinya?”

Anggun tidak pernah merasa baik-baik saja. Ia selalu mengenang memori itu sambil memutar lagu-lagu penyesalan di dalam hatinya. Anggun merasa bahwa dirinyalah yang telah membuat sahabatnya terluka parah dan pergi untuk waktu yang sangat lama. Anggun merasa kejadian waktu itu adalah mutlak kesalahannya. Tidak ada sangkut-pautnya dengan takdir Tuhan. Tuhan yang hanya sebagai pencipta alam tidak pernah mengatur alur cerita yang setiap manusia alami. Manusia adalah yang mempunyai skenario sesungguhnya di dunia. Kejadian-kejadian yang dialami oleh seluruh manusia adalah mutlak perbuatan manusia. Bukan perbuatan Tuhan. Suka, duka, dan perasaan-perasaan lain yang seringkali manusia rasakan diciptakan oleh hati dan pikiran-pikiran manusia itu sendiri

Seiring berjalannya waktu, Anggun bangkit dari keterpurukan rasa penyesalan yang telah lama menyelimuti hati dan pikirannya dengan begitu erat, hangat. Lambat laun Anggun mulai mencoba memaafkan dan berdamai dengan hati dan pikirannya sendiri. Sebab hati dan pikiranlah yang menentukan mau dibawa ke mana hidup seseorang; sedih atau bahagia? “Forgive but not forgot.”

Meski tidak dapat ia pungkiri, Anggun hanya bisa mencoba untuk memaafkan kejadian demi kejadian yang tidak pernah bisa ia lupakan begitu saja. Anggun percaya, setiap kejadian mempunyai pelajaran yang berharga. Semua akan ia simpan di dalam kotak-kotak ingatan di kepalanya. Anggun pun percaya setiap kenangan ada bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dipelajari. Agar bisa menjadi lebih baik, kadang manusia memang butuh kenangan. Dan kini Anggun telah mengubah kabut-kabut sendu masa lalu menjadi rindu. Anggun menjalani hidup seperti sedia kala, seperti biasanya.

Selesai.

*Penulis adalah anggota Rayon Adab dan Humaniora Komisariat UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung

Author:

0 komentar: