Oleh: Aris Hidayatulloh
Di pertengahan bulan januari 2018, parka atau semacam jaket yang terbuat dari kulit domba mungkin akan terasa hangat jika di pakai ketika angin di musim politik menyelinap tubuh tanpa kaku. Dan hal yang mungkin di lakukan sepasang anak remaja ketika tertiup angin asmara adalah menutup mata sendu padahal mereka tau dan pura-pura berkedipan mata seolah-olah ada kotoran di mata. Terlihat romantis hati tidak bisa berpura-pura, angin di sepanjang jalan raya melambaikan asa kepada sepasang sosok yang terpangpang di baliho ukuran besar lampu merah. Kesejasteraan rakyat terlihat jelas di tulis dengan warna merah dan putih, lambang pusaka milik negara yang gagah di terpa udara segar jalan raya. Salam hormat untuk sepasang visi dan misi mebangun desa sampai ke kota.
Pagi hari sebelum di sambut tulus matahari, pemandangan kota yang sebentar lagi menjadi panggung dan pameran program kerja. hati yang malu menyaksikan komitmen panas dari tata surya. Menyebar kasih tanpa iba, silih asah, silih asih, silih asuh sudah tentu, untung rugi tidak menjadi timbangan rata untuk maju. Angin masih berkelabu meski kaki harus beranjak pergi untuk membeli koran dari desa ke batas kota, dimana harus melewati jalan bebatuan yang tahun depan di janjikan perbaikan. Angin di musim politik masih saja berirama dengan nuansa januari yang romantis, begitu pun sepasang orang yang terpang-pang di baliho lampu merah begitu murah senyum meski goncangan angin merasa iri. Sudahlah… kenapa tidak berkompromi saja, gagasan mana yang kira-kira sesuai dengan bukti nyata.
Siang hari di musim dingin januari, usai tukang becak berdo’a dari tempat suci berharap biaya sekolah si bungsu bisa selesai dengan kondisi. Pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan menjadi ladang yang di tawarkan semoga tidak menjadi belenggu yang menyakitkan. Siang hari di perbatasan kota samping pasar, tukang becak masih saja kebingungan bagaimana mau membiayai sekolah. Pelanggan nya pun kini jarang ke pasar, usut punya usut harga sembako nya pun sangat kasar. Bukan hanya tukang becak, angkot dan tukang ojek pun resah ketika musim angina menusuk-nusuk beban hidupnya.
Sore hari di waktu senja, surat kabar di kolom milik media masa menginformasikan bahwa rakyat harus ikut andil dalam mensukseskan pilkada. Tukang becak yang dari kedinginan tertusuk-tusuk beban kini menerima kabar yang sama membingungkan. Padahal beberapa tahun lalu dia selalu mengorbankan waktu mencari rizki nya untuk pergi ke TPS, tapi itulah tukang becak. Meski tidak seperti politikus yang bijak tukang becak pun bersikap tegas untuk memilih tanpa di asih. Angin di bulan januari begitu romantis sampai tukang becak pun merenung tanda rindu bersemangat iba dari rakyat yang hanya makan sederhana.
Malam menggigil kedinginan, waktu antara merebahkan lelah dan berdo’a agar selamat di dunia. Sama hal nya dengan persiapan pilkada bulan depan semoga selamat sampai khidmat, tidak usah pusing dengan bisikan tetangga. Rukun dan akur itulah program selama bernegara, siapapun yang manggung kita masih menjadi tetangga yang saling bahu membahu, silih asah, silih asih, silih asuh.
Angin di sela-sela pilkada adalah sublimasi dari resah yang bercampur dengan harapan mulia nan jaya. Bagaimana kita selaku bagian terpenting dari warga negara akan menentukan sendiri pilihan pemimpin sesuai dengan selera. Hari ini kita di anggap penting jangan sampai hari kemudian kita di anggap korban kekuasaan, angin di sela sela pilkada sangat erotis menggugah gairah kerja untuk tetap mencari nafkah. Biarkan mereka sibuk dengan tugas tahunan nya asal jujur tidak mencelakakan rakyat nya, sudah beberapa kali mungkin kita di tusuk-tusuk beban hidup yang tidak jelas. Kalo bukan karena nahkoda yang tidak tau bagaimana cara nya berlayar ke tiap-tiap samudra lantas siapa yang akan paling depan berbicara?.
Setelah angin di sela-sela pilkada usai mari untuk sama-sama berbenah diri, di mulai dari diri pribadi, penguasa negara sampai ke desa. Akan bagaimana kedinginan yang lumayan panjang ini berbuah manis dengan musim mendatang yang di cita-citakan. Besok pagi yang siap menyapa cahaya, siap-siap bekerja keras dan cerdas untuk keluarga dan negara, tukang becak yang mengayun-ayunkan kaki nya, petani yang dari subuh pergi keladang asri, pegawai negri, swasta yang rapai dan wangi atau polisi yang dari pagi berdebu-debu panas mengamankan lalu lintas semoga tetap jaya dan berpahala, menjadi warga negara yang asik dan romantis pun bagian dari unsur menciptakan kedaulatan bersama.
Angin di sela-sela pilkada hampir saja usai, entah di bulan apa pilkada akan diselenggarakan. Tentu saja mental dan siap bangun harus terlatih dari sekarang, untuk itu agar tidak terlalu dingin perlu kiranya fisik dan pikiran harus di olah ragakan yang kemudian membantu lancarnya pendapatan pengetahuan. Itulah, sekiannn.
0 komentar:
Posting Komentar