Sabtu, 23 September 2017

Indonesia Minim Petani Muda

Indonesia merupakan negara  dengan letak astronomi 6° lintang Utara (LU) – 11° lintang Selatan (LS) dan antara 95° bujur timur (BT) – 141° bujur timur (BT). Oleh karena itu, Indonesia menjadi Negara agraris yang​ beriklim tropis. Dengan tanah​ yang subur dan sumber daya alam yang melimpah.

Selain itu, penduduk negara Indonesia sebagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian. Dengan kekayaan alam tersebut, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Karena dengan iklim tropisnya​, membuat negara Indonesia menjadi negara yang subur. Dimana sinar matahari selalu terjadi sepanjang tahun.

Namun​ saat ini,  Indonesia justru kekurangan petani muda. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan, bahwasanya petani yang berusia 15 – 35 tahun, hanya 4% dari​ total populasi petani yang ada di Indonesia. Bahkan 65% petani di Indonesia berusia lebih dari 45 Tahun.

Secara umum, Indonesia memiliki potensi yang besar dan variatif. Serta didukung oleh kondisi fisik lahan yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian, khususnya sawah. Dan lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia bekerja pada sektor pertanian.

Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut kini tidak lagi diminati oleh kalangan muda Indonesia. Dewasa ini kawasan Industri lebih menarik bagi mereka untuk mengadu nasib demi kelangsungan hidup mereka.

Jika seperti ini, lalu kemanakah mahasiswa-mahasiswa lulusan jurusan pertanian di Indonesia?. Bukankah seharusnya mereka yang mengisi ruang-ruang tersebut. Apakah mereka hanya diajarkan menjadi pemikir, tanpa eksekusi yang nyata di lapangan.

Dwi Andreas Santoso guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan. Bahwasanya, mayoritas lulusan sarjana pertanian lebih memilih bekerja di sektor lain​, dibandingkan sektor pertanian. Mereka cenderung lebih memilih bekerja di perusahaan-perusahaan,​ atau sektor lain yang dirasa lebih meyakinkan masa depan mereka.

Adapun yang menjadi alasan mereka enggan untuk menjadi petani diantaranya, karena kebijakan tanaman pangan sangat murah dan menggerus penghasilan petani. Padahal sektor pertanian kontribusinya sangat besar untuk perekonomian negara Indonesia.

Hal ini diakibatkan pula oleh berubahnya sistem pertanian subsistem menjadi sistem pertanian pasar. Yang mengakibatkan sistem pertanian di atur oleh pasar, bukan oleh petani itu sendiri.

(Dasem Miyasi/Rokib)


Author:

0 komentar: