Senin, 12 Juni 2017

Kenyataan Pendidikan Hari Ini

Ilustrasi: http://zeo99.blogspot.co.id

Oleh : Luthfi Moqodas (Kader PMII RTK)

Pendidikan sebuah jalan atau jembatan untuk mendorong kepada manusia  menjadi manusia seutuhnya. Zaman sekarang, khususnya mahasiswa di sibukkan dengan aktivitas yang menunjang untuk jenjang karier kedepannya seperti apa. Patut di sadari, kegelisahan-kegelisahan para pemikir posmo tentang dunia yang terus berjalan cepat datang bagaikan arus. Yang di benturkan oleh  era modern, dan  banyak di singgung tentang nilai yang dipahami oleh masyarakat modern.

Dalam memaknai nilai, sangat susah untuk di gambarkan. Karena segala sesuatu harus terukur. Akan tetapi, merujuk dari kesadaran. Bahwa nilai adalah batasan untuk mengkrangkeng mahasiswa.  Melihat peran manusia sebagai khalifah fil ard (pemimpin dimuka bumi). Peran pemimpin harus bisa bersikap dari pada realitas objektif. Bukan hadir dari pada nilai yang sudah di strukturkan oleh para tokoh modern.

Pasalnya, mahasiswa saat ini  sudah terjebak dari pada nilai-nilai yang dibuat oleh sekelompok orang (birokrasi) yang tidak tahu dari mana nilai ini berada dan tanpa ada kesepakatan subjek yang ada didalamnya. Sehingga, keterjebakan habitus mahasiswa pada hal yang seperti melupakan permasalahan-permasalahan yang ada dalam lingkungannya. Faulo Freire sudah memikirkan hal itu akan pentingnya model pendidikan hadap-masalah.

Dalam maksud disini, yaitu di mana para mahasiswa memahami akan persoalan yang ada dalam masyarakat dan tidak menyampingkan rasa humanisasi di dalamnya. Di perkuat juga oleh J.Habermas tentang memahasi sebuah permasalahan dari segi rasionalitas-matealistik.

Tidak akan terjadi pencapaian memanusiakan manusia seutuhnya, bila prosesnya hanya dalam perasaan atau terpatok dalam nilai-nilai tersebut. Kehidupan ini sangat dinamis tidak bisa untuk dijadikan sebagai patokan. Hanya saja hal ini sangat melekat di kampus-kampus yang katanya miniatur negara ataupun subjeknya tersebut adalah agent of change. Untuk pelanggengan dari itu semua dengan adanya simbolik didalamnya. Seperti pihak rektorat terhadap pihak fakultas ataupun dosen kepada mahasiswa.

Hal seperti ini menjadi senjata ampuh untuk menjadi pelumpuhan tingkat nalar terhadap realitas dan juga pelanggengan terhadap nila-nilai serta peran simbolik dilakukan.

(Editor/Alin)


Author:

0 komentar: