Minggu, 21 Mei 2017

Mahbub Djunaidi, dan Perjuangan Kaum Tani

Oleh : Abdul Rokib

Sebagai aktivis yang ikut andil mendirikan bahkan menjadi Ketua Umum  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pertama. Mahbub Djunaidi mempunyai rasa simpati besar kepada kaum tani, hal ini dapat kita telusuri dalam tulisan nya yang berjudul "MISKIN".

Dalam tulisannya tersebut Mahbub menggambarkan beberapa kenyataan pahit yang harus dialami  kaum tani yang dihisap sumber penghidupannya oleh segelintir tuan tanah. Salah satunya yaitu sengketa tanah yang dialami oleh ratusan ribu petani miskin di Jenggawah, Jember dan Badega pada bulan Mei 1995. "Petani-petani itu merasa terancam akan digusur dari tanah yang dicintainya". 

Pelaku utama yang akan menggusur lahan petani itu tak lain  adalaj PT. Perkebunan PTP XXXVII. Menurut Mahbub, sengketa tersebut juga pernah terjadi pada tahun 1981 dan tahun 1988.

Mahbub juga menggambarkan persoalan kaum tani yang terjadi di Filipina, "Cuma dua persen penduduknya dipegang oleh tuan-tuan tanah dan 89 persennya dalam keadaan papa dan miskin tak punya kuasa apa-apa".  Hal ini menyebakan  kedaulatan ekonomi dan politik tidak berada di tangan rakyat. "Kekuasaan ekonomi dan politik dipegang oleh tak lebih dari keluarga tuan tanah". Tulis Mahbub.

KAUM TANI SEBAGAI BOM WAKTU

Tulisan "MISKIN" ini menggambarkan Petani Miskin tak bertanah dapat menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja yang dapat melahirkan kerusuhan sosial. "Tapi dia maklum, penduduk yang tak memiliki tanah merupakan bom waktu yang tiap saat bisa meletus dan menumbangkan negeri". 

Bila kita lihat fenomena sengketa tanah (Agraria) yang muncul saat ini dengan jumlah yang tinggi, berdasarkan data yang dihimpun oleh Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), sepanjang tahun 2009-2014. Jumlahnya mengalami kenaikan yang begitu drastis, tercatat jumlah konflik agraria yang terjadi pada tahun 2009 jumlahnya hanya 89 kasus. Sedangkan pada tahun 2014 jumlah ini melejit drastis menjadi 472 kasus. Berdasarakam presentase diatas kenaikan antara 2009 sampai 2014 berlipat 430%.

MAHASISWA DAN KETERTINDASAN KAUM TANI

Data diatas menunjukan bahwa persoalan tanah yang membelenggu kaum tani miskin tak bertanah tidak bisa dipandang sebelah mata, dan seharusnya tidak luput dari perhatian aktivis gerakan disektor mahasiswa khususnya. Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai kelas yang memiliki kesadaran paling maju tidak memiliki arti apapun jika hanya duduk diam melihat persoalan yang dihadapi kaum tani miskin tak bertanah ini. 

Sahabat PMII sejatinya harus bisa bersahabat dengan masyarakat yang nyata. Tidak hanya bersahabat dan membela masyarakat di dunia ide, tetapi persahabatan yang nyata yang membela kaum tertindas di dunia nyata. Dengan ikut mewakafkan diri sepenuhnya dalam perjuangan kaum tani dan kaum tertindas lainnya untuk membela hak-hannya yang terenggut atas nama pembangunan percepatan infrastruktur yang digalakan oleh rezim penggusuran hari ini.

Kutipan menarik dari seorang sastrawan besar Rusia, Fyodor Dostoyevsky dalam karyana "Si Dungu" yang ditulis dalam oleh Mahbub, "Barangsiapa tidak memiliki tanah sendiri berarti dia tidak memiliki Tuhan". 


Author:

0 komentar: