Minggu, 01 Januari 2017

Tentang Kamar Mandi



Oleh: M. Syamsul Aimmah*

Keluar masuk kamar mandi adalah rutinitas yang tidak pernah membosankan tapi menyenangkan. Pasalnya, seseorang bisa terlihat lebih segar dan bahagia saat setelah keluar dari kamar mandi. Ada raut wajah yang tidak biasa yang diperlihatkan oleh orang-orang sekalipun ia sedang merasa sedih dan terluka. Kamar mandi menjadi obat paling mujarab untuk menyembuhkan segala kesedihan.
Selain itu, kamar mandi juga menawarkan ketenangan. Suara gemericik air yang keluar dari keran yang diputar membuat seseorang seperti sedang melakukan sebuah pijat relaksasi yang tidak perlu mengeluarkan biaya mahal.

A.S. Laksana dalam bukunya yang berjudul Murjangkung menulis, untuk bisa memahami suatu pemikiran dalam sebuah cerita yang dihadirkan dalam buku, kau harus bisa mendapatkan ketenangan melebihi apapun. Carilah tempat-tempat yang sepi yang menawarkan hal itu. Atau jika kau tidak mendapatkannya, kau boleh pura-pura ingin berak meski padahal tidak dan pergi ke kamar mandi untuk membaca.
Kamar mandi bisa menjadi ruang untuk orang-orang berpikir dan merenung. Jauh lebih dari itu, kamar mandi bisa membuatmu merasakan kerennya menjadi seorang filsuf. Minimal ada satu buah karya yang bisa kau ciptakan saat sedang berada di kamar mandi. Sheryl Sheinafia, penyanyi muda berbakat Indonesia, seringkali menciptakan lagu ketika berada di kamar mandi. Betapa kamar mandi adalah kelas bagi orang-orang untuk belajar dan berpikir.

Seseorang berkata, Tuhan berada di setiap sudut ruangan. Dimanapun, tak terkecuali di kamar mandi. Jika seseorang bisa mendapatkan solusi dari berbagai masalah setelah masuk kamar mandi, lalu siapa lagi yang telah memberikan hal itu jika bukan Tuhan. Jelas, ada campur tangan Tuhan di sana: di kamar mandi. Apakah Tuhan sedang mandi atau apa? Tidak ada kebenaran yang benar-benar benar untuk menjawab persoalan itu kecuali mungkin jika kau memikirkannya di kamar mandi.
Ada beberapa persoalan yang tidak bisa manusia selesaikan kecuali dengan masuk ke dalam kamar mandi. Seringkali, kamar mandi menjadi referensi atau sumber yang ke-autentikan dan ke-kredibelannya tidak perlu dipertanyakan.

Di zaman yang penuh kebencian ini, kamar mandi menjadi pilihan tepat untuk dijadikan sebagai sebuah tempat berlindung. Ya, berlindung dari derasnya kebohongan, dari panasnya pencitraan, dan dari tajamnya pengakuan. Hari ini kamar mandi dan ketenangan menjadi hal penting yang sulit kau dapatkan. Di mana-mana, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana pun, kebohongan, pencitraan, pengakuan kebenaran menjadi hal ruwet seperti kemacetan sore hari di jalan Bundaran Cibiru. Semua orang mudah dan tergesa-gesa untuk melakukan hal-hal yang demikian. Mereka berbohong dengan melakukan sebuah pencitraan dan mengklaim bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kebenaran yang masif. Dan sehingga pada puncaknya, mereka akan mengklaim orang-orang yang tidak melakukan hal yang sebagaimana telah mereka lakukan adalah orang-orang yang salah dan berdosa sehingga akan diganjar Tuhan dengan neraka.

Berangkat dari hal itu, satu-satunya yang dibutuhkan oleh seluruh manusia yang berada di alam semesta, khususnya di Indonesia adalah sebuah ketenangan. Dan tidak ada yang lebih tenang melebihi apapun kecuali kamar mandi. Sebab di kamar mandi kau tidak akan menemukan agama, China, PKI, perdebatan tentang gambar Cut Meutia yang tak berjilbab di uang baru, kebodohan orang-orang yang tidak mengetahui perjuangan pahlawan Frans Kaisiepo, dan ketakutan-ketakutan yang sedang menjadi hangat diperbincangkan.

Di kamar mandi juga kau bisa bebas menikmati makanan produk Sari Roti dengan santai tanpa takut diboikot atau dikafirkan. Dan puncaknya adalah, di sebuah ruang yang kosong yang hanya ada satu buah ember berukuran sedang dan sebuah gayung dengan variasi warna yang berbeda, lewat gemericik air yang keluar dari keran yang kau putar, sambil menghisap sebatang rokok, kau bisa membayangkan betapa indahnya dunia ini jika kau memiliki seorang kekasih yang senantiasa memberikan dukungan padamu dalam perkara apapun demi mengejar cita-cita. Lalu seolah kalian bekerja sama untuk menjadi seorang yang sukses di bidang yang sama atau beda. Mungkin seringkali kalian akan berbeda dalam segala hal. Tapi tentang kamar mandi: kosongnya, segarnya, tenangnya, kalian sepakati tanpa tetapi.

*Penulis adalah Kader Rayon Adab dan Humaiora Komisariat UIN SGD Cab. Kabupaten Bandung


Author:

0 komentar: