Oleh: Ryan Sevian*
Ini merupakan tulisan penulis di awal tahun ini. Dan dengan
itu penulis mengucapkan selamat tahun baru 2017, semoga di tahun ini kita semua
diberikan kemudahan untuk menjalani roda lika-liku kehidupan. Semoga Tuhan
selalu memberkati kita semua di tahun 2017 ini. Aamiin.
Masih dalam euforia
memperingati Haul Gur Dur, penulis juga tidak ingin lepas dari peringatan itu.
Tidak lebih, hanya do’a semoga beliau (Gus Dur) ditempatkan di tempat yang
semestinya beliau tempati, sangat pantas surga tempat indah yang paling terindahlah
yang pantas beliau tempati atas segala jasa yang pernah beliau berikan, khususnya untuk umat muslim dan umumnya untuk negara Indonesia ini. Tulisan
kenang-kenangan pribadi penulis ini menjadi salah satu apresiasi penulis
terhadap sosok Gus Dur yang cukup naif jika tidak dijelaskan dengan kosakata
yang indah tentangnya. Semua orang tahu siapa Gus Dur itu, walaupun penulis
yang tidak sempat merasakan sepenuhnya kepemimpinan pada masa-masa beliau
manggung sebagai presiden maupun sebagai Ulama besar. Tak kenal maka tak
sayang, hanya berbekal buku dan informasi lainnya penulis bisa mengenal lebih
dekat sosok Gus Dur. Karena berawal dari keresahan penulis mulai ingin mencari
tahu sosok Gus Dur itu seperti apa.
Kisah itu terjadi sekitaran pertengahan tahun
2000, penulis baru berumur 5 tahun. Penulis tinggal di sekitaran Kampung Desa
pinggiran di Kabupaten Subang, yang notabe merupakan kampung yang penghasilan
ekonomi masyarakatnya berasal dari berkebun dan bersawah, Rata-rata mata pencaharian penduduk adalah petani, cukup jarang pada waktu itu warga yang bekerja selain menjadi petani.
Termasuk keluarga penulispun, yang hasil mata pencahariannya didapatkan dari hasil
ladang perkebunan. Penulis berasal dari keluarga menengah ke bawah. Hari ini
makan, belum tentu hari esok bisa makan.
Penulis yang masih berumur 5 tahun saat itu tidak
seperti anak sebaya lainnya yang sudah duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK).
Pada umur tersebut keseharian penulis sering diisi dengan mengikuti kegiatan Ayah dan Ibu
penulis ke perkebunan, berangkat pagi dan pulang sore. Hampir setiap hari
penulis mengikuti Ayah dan Ibu penulis menanam, merawat, dan memanen. Kadang timun, jagung, kacang
panjang yang orang tua penulis tanam sesuai kebutuhan pemodal pasar.
Masa kecil penulis kesehariannya lebih banyak dihabiskan di perkebunan bersama kedua orang tua penulis, karena di rumah penulis
sendirian saja. Kakak penulis saudara satu-satunya sedang mencari ilmu di salah
satu pondok pesantren yang berbeda desa dan menetap disana. Ketika di perkebunan Ayah
penulis sering bercerita perihal Indonesia dahulu (penulis sekarang sudah mengerti
yang oleh Ayah penulis ceritakan itu ialah Masa Orde Baru, dimana menjabatnya Eyang Soeharto sebagai presiden).
“Presiden Soeharto teh Presiden nu ngajabat
puluhan tahun. Rakyat patani makmur pisan pas pak harto ngajabat mah. Ayeuna tos
ganti duka nasib na patani siga bapak kumaha kaharep na (Presiden Soeharto itu
presiden yang menjabat puluhan tahun. Rakyat petani makmur sekali ketika Pak Harto menjabat. Sekarang sudah ganti tidak tahu bagaimana nasibnya petani
seperti ayah bagaimana ke depannya)”, celoteh Ayah penulis bercerita di
sela-sela kesibukannya.
“Kok bisa ganti sih pak?” Penulis penasaran.
“Cenah
mah Pak Harto korupsi maling duit rakyat, ayeuna ganti presidanna jadi kiyai tapi
buta teu tiasa ningali normal (Pak Harto korupsi maling uang rakyat, sekarang
ganti presidennya jadi kiyai tapi buta tidak bisa melihat normal).”
Atas
jawaban itu penulis semakin penasaran dan kebingungan yang ‘redaksi’-nya Pak Harto itu memakmurkan masyarakat kok harus diganti jabatan ke presidenanya? Apa
presiden Pak Kiyai yang matanya buta itu akan sama seperti Pak Parto memakmurkan
petani seperti keluarga penulis? Apa
dengan bisa mengurus negara dengan kebutaannya itu? Mungkin itu salah satu keresahan
yang penulis rasakan saat itu.
Sore itu masih sekitaran tahun 2000 penulis pulang
dari perkebunan bersama Ayah dan Ibu
penulis. Tidak biasanya warga di sekitaran kampung penulis membuat dan memasangkan
kelenceng di atas pintu depan rumahnya. Kelenceng itu terbuat dari kaleng susu
bekas, dibolongi dan diikat dengan sebuah paku di dalam kaleng tersebut, lalu
digantungkan di atas pintu depan rumah dan jika tertiup angin kaleng itu akan
berbunyi 'kelenceng-kelenceng' akibat pantulan paku didalam kalengnya, yang bertujuan menunjukan bahwasanya kalau semisalkan kampung sekitaran penulis
kedatangan presiden yang buta itu mengunjungi kampung penulis, maka suara
kelenceng itu menjadi tanda buat si presiden buta bahwasanya ada rumah
pemukiman warga. Ini sebuah penghinaan terhadap presiden atau warga kampung
penulis kreatif membuat hal seperti itu. Penulis yang pada waktu itu polosnya
maksimal ngangguk-ngangguk manut saja melihat hal itu, bahkan tidak mau
ketinggalan Ayah penulis pun membuat hal yang serupa seperti warga lainnya.
(Sekarang penulis gemuyu-gemuyu saja kalau misalkan teringat kelenceng itu
hehe)
Yang masih menjadi pertanyaan besar penulis
pada waktu ialah mengapa Pak Harto yang katanya memakmurkan para petani lalu
malah diganti dengan karena tuduhan korupsi? Lalu penggantinya mengapa seorang
buta yang tidak bisa melihat jelas? Apa tidak ada lagi orang di Indonesia yang
mempunyai raga sehat tidak buta seperti presiden pengganti Pak Harto itu?
Gerutukan penulis pada saat itu.
Selang dari setahun waktu itu sekitaran tahun
2001, kelenceng di sekitaran rumah warga yang biasanya berbunyi setiap saat
terhempas angin, mulai dicopoti dan sekitaran kampung pun menjadi sepi akibat
penyopotan kelenceng itu. Melihat hal itu, penulis menanyakan kepada Ayah
penulis mengapa kelenceng itu dicopoti. “Presidenna tos ganti deui ku bu Mega, teu
buta deui ayeuna mah. Jadi teu kudu pake kelenceng (Presidennya sudah ganti
lagi sama Ibu Mega, tidak buta lagi sekarang mah. Jadi tidak perlu pakai
kelenceng)," tandas Ayah penulis menjelaskan. Setelah berbincang-bincang dengan
Ayah penulis, presiden itu telah digantikan oleh ibu muda yang sehat raganya
bisa melihat normal, tidak buta seperti presiden sebelumnya dan tidak perlu
adanya kelenceng jikalau misalkan Ibu Mega, presiden baru itu mengunjungi
kampung penulis.
Jujur pada saat itu penulis masih penasaran
dalam hati perihal apa-apa yang terjadi setahun ke belakang, ingin mengetahui
rupa presiden buta itu seperti apa, kok dengan keadaan buta bisa menjadi seorang
pemimpin negara? Kalau misalkan Ibu Mega lebih sehat jasmaninya ketimbang
presiden buta itu, kenapa tidak dari dulu saja menjabat presidennya
menggantikan Pak Harto?
Sampai pada saat itu tahun 2004 penulis sudah
duduk di sekolah dasar, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kebetulan kakak kandung penulis
adalah seorang santri di salah satu Pondok Pesantren di daerah Subang. Suatu saat penulis diajak oleh kakak penulis
untuk menghadiri sebuah acara haul di pondokannya.
“Hayu ngilu ka pondokan
aa, tamu undangan na Gus Dur (Ayo ikut ke pondokan kakak,tamu undangan nya Gus
Dur)," ajak si kakak penulis.
“Saha Gus Dur teh? (siapa Gus Dur itu?)" tanya
penulis.
“Eta mantan presiden nu matana buta tea (itu mantan presiden yang
matanya buta)," jawab si kakak penulis.
Oh, ternyata mantan presiden yang buta itu
namanya Gus Dur, tandas dalam hati penulis. Dengan girang pula penulis tidak
menolak ajakan sang kakak. Pucuk dicinta ulam pun tiba, penulis
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, yang selama beberapa tahun ke belakang
sempat membuat penulis penasaran kepada orang buta yang bisa menjadi orang
nomer satu di negeri ini.
Sesampainya penulis tiba di pondok pesantren kakak penulis, di pintu masuk pondokan terlihat Polisi-TNI berkolaborasi
mengamankan jalannya acara yang dimana mungkin orang yang menghadiri acara
tersebut sampai ribuan orang. Sesampainya di pondokan itu, penulis langsung diajak kakak penulis ke keramaian di
antara orang ribuan, berbaurlah penulis dengan santri-santri lainnya. Ada
kecanggungan yang penulis rasakan ketika berbaur satu sama lain dengan
santri-santri disana, dimana style penulis yang menggunakan celana levis begy
menyelorot, menampilkan penulis seperti anak begajulan jalanan, berbeda dengan
santri-santri yang menggunakan sarung, baju koko, kopeah item, dan sangat
alim-alim sekali kelihatannya, ketika ada orang tua berjalan di depannya
mereka menundukan kepala, sangat sopan dan berakhlak sekali kelihatannya.
Pemandangan baru yang penulis rasakan ketika melihat hal itu, yang biasanya
penulis bergaul dengan orang begajulan preman-preman yang gayanya sembrono
begitupun dengan akhlaknya tidak karuan, kini penulis disuguhkan pemandangan
anak-anak muda-mudi yang dimana putranya pakai pakaian rapih sarungan, putrinya
berjilbab laksana indahnya permata di tengah laut. Dan bermula dari itu
penulis ada minat buat suatu hari nanti supaya bisa menjadi salah satu santri
sama seperti apa yang penulis lihat sekarang.
Masih dalam unek-unek ke-penasaran penulis
tentang mantan presiden buta itu, penulis mencari sosok orang buta itu. Setelah
mencari dan penulis tidak menemukan sosok itu, akhirnya penulis menanyakan
langsung kepada kakak penulis, dimana sosok mantan presiden buta itu. Setelah
menanyakan dan mengetahui jawabannya, penulis harus bersabar menunggu beberapa
saat karena mantan presiden buta itu masih dalam perjalanan dan sedang menuju
ke pondokon ini. Penulis pun ngangguk-ngangguk dan bersabar untuk menanti
kedatangan mantan presiden buta itu.
Masih dalam edisi menunggu kedatangan mantan
presiden buta itu, tiba-tiba datang mobil di kejauhan jalan yang penulis lihat ada mobil
polisi di depannya, dan diikuti iring-iringan beberapa mobil di belakangnya. Orang yang berada dalam acara itu hampir semua orang berdiri dan
memanjatkan sholawat nabi bak menyambut kedatangan seorang pahlawan. Lalu
berhentilah beberapa mobil itu yang kebetulan berhenti tidak jauh di depan mata
kepala penulis, dengan itu penulis bisa jelas mengetahui siapa yang akan turun
di dalam mobil itu dan siapa orang yang disambut sebegitu luar biasanya oleh
para hadirin yang ada ini. Dengan berdesak-desakan satu sama lain, sama halnya dengan penulis yang ingin melihat rupa orang yang disambut itu,keuntungan penulis yang mempunyai badan kecil yang dengan mudah
berdesakan bisa menyelipkan badan penulis di antara keramaian itu supaya bisa
berdiri di paling depan, dan memang benar dengan badan kecil itu penulis dengan
mudah menyerempil di antara pengunjung lainnya. Kini penulis hanya berjarak
sekitar satu meter saja dengan mobil itu, mobil yang dihadang oleh Polisi-TNI. Tidak lama kemudian orang istimewa itu turun
dari mobilnya dengan dibantu oleh ajudannya. Dan betapa kagetnya penulis melihat
orang itu ketika turun dari mobilnya berupa orang tua yang mempunyai badan
bongkok, berkacamata tebal, bahkan jalanpun dia menggunakan kursi roda. Dalam
hati penulis kembali menggeretak, apakah beliau Gus Dur yang selama ini sudah
membuat kegundahan penulis karena orang buta seperti beliau bisa menjadi
presiden?
Setelah itu penulis bertanya kepada si kakak penulis perihal itu. Kakak penulis meng-iyakan bahwasanya yang disambut bak pahlawan itu ternyata
Gus Dur, si mantan presiden yang buta itu! Tidak lama kemudian penulis diajak kakak penulis untuk pindah tempat, dan segeralah penulis dan kakak penulis
berdesak-desakan pindah tempat strategis ke tempat yang jelas untuk bisa
melihat sosok Gus Dur sang mantan presiden buta itu. Diajaknya penulis oleh kakak penulis, dan kali ini penulis berdiri pinggir panggung yang di panggung
itu terdapat bapak tua yang memakai kaca mata tebal, Gus Dur! Yaaa.. penulis
berdiri di pinggir panggung itu yang mungkin hanya berjarak lima meter saja
dengan mantan presiden buta itu.
Dengan jelas kali ini penulis melihat bentuk
dan wujud mantan presiden buta itu, pikiran labil polos penulis yang
bertanya-tanya kok orang yang sudah tua, buta ,jalan saja dibantu kursi roda, tapi
dipilih menjadi pemimpin bangsa ini? Walaupun pada akhirnya kepemimpinannya
tidak lama dan harus digantikan oleh ibu Mega yang lebih sehat dari dia, apakah
beliau digantikan karena Ibu Mega lebih sehat jasmaninya? Penulis berpikiran
seperti itu karena saat itu penulis dengan jelas benar-benar jelas melihat
perwujudan aslinya Gus Dur yang secara logika dini tidak terbayangkan, apakah
dengan kesehatan yang seperti itu bisa memimpin bangsa Indonesia? Dengan polosnya penulis berpikiran, mungkin gara-gara Ibu Mega lebih sehat dari Gus Dur dan
dengan itu Ibu Mega menggantikannya menjadi presiden. Dan berulang kali penulis berpikiran demikian.
Gus Dur menyampaikan pidato yang tidak
lama. Seingat penulis, Gus Dur menyampaikan pidato tidak lebih dari
sejam saja. Tidak banyak yang dimengerti oleh penulis perihal apa-apa saja
yang disampaikan oleh Gus Dur dalam pidatonya, seingat penulis intinya Gus Dur
mengajak atau menganjurkan kita semua warga Indonesia untuk terus dan terus
menjaga keutuhan budaya dan keutuhan NKRI.
Seusai pidatonya yang singkat, Gus Dur, mantan
presiden buta itu dan iring-iringannya berfoto dengan Pak Kiyai Pimpinan Pondokan itu. Setelahnya langsung bergegas masuk ke mobil dan bergegas
meninggalkan pondokan. Dengan itu penulis dan kakak penulis pun mempersiapkan
diri untuk bergegas kembali pulang kerumah penulis.
Sesudahnya dari acara yang di hadiri Gus Dur
itu, tidak terasa penulis menamatkan sekolah Madrasah Ibtidaiyah sampai lulus di
bangku kelas 6. Menyinggung Gus Dur mantan presiden yang buta itu, penulis tidak
pernah mendengarkan atau ada guru yang menyinggung perihal Gus Dur yang buta
itu mengapa bisa terpilih menjadi Presiden Indonesia. Tidak ada satupun guru
yang mau menjelaskan mengapa orang buta seperti Gus Dur bisa terpilih menjadi
pemimpin bangsa. Sangat hambar rasanya (sekarang penulis sudah duduk dibangku
perkuliahan) ketika penulis kecil kurang dicekoki sejarah-sejarah penting yang
sangat berpengaruh terhadap bangsa Indonesia itu sendiri. Malah justru sebalik
nya, penulis masih ingat sekali ketika penulis kecil duduk di sekolah MI, guru-guru
seakan-akan memberikan sejarah yang telah benar-benar di manipulasi kebenarannya. Sejarah yang diberikan kepada penulis kecil hanyalah seperti sejarah
untuk kepentingan golongan saja, banyaknya fakta yang disembunyikan oleh para
guru-guru pada saat itu. Semisalnya membahas PKI saja, guru-guru pada waktu itu
menjelaskan bahwasanya kalau PKI berkuasa, maka setiap petani berhak mempunyai
pistol atau senapan. Jadi seolah guru itu menjelaskan betapa bahayanya PKI jikalau
memang partai itu menguasai negeri ini, bisa-bisa akan seringnya terjadi
peperangan antara petani dan TNI-Polisi. Tidak dijelaskannya kepada penulis
kecil perihal tragedi G30S, sejarah kelam bangsa Indonesia yang sudah memakan
korban jutaan orang, pembunuhan massal terkejam sepanjang sejarah berdirinya NKRI
ini. Tidak ada pembahasan yang benar-benar murni sejarah fakta.
Lanjut sesudah penulis lulus dari MI, penulis
melanjutkan ekspedisi tholabul ilmi ke pesantren yang dulu sempat penulis
datangi ketika pertama kali melihat Gus Dur, pondok pesantren yang santri-santri
nya mempunyai akhlak baik itu, yang stylenya mempertontonkan style seorang
yang yang berakhlak alim, santri putrinya berjilbab kedesa-desaan membuat
semakin anggun di pandang mata. Sekitaran tahun 2009 penulis menapakan kaki di
pondok pesantren itu, dengan dibimbing oleh kakak penulis dan langsung diperkenalkan dengan santri-santri lainnya. Penulis melanjutkan sekolah formal
di Mts Al-Ishlah (sekolah yang masih satu yayasan dengan pondok pesantren
Al-Islah) dan Non Formal di Madrasah Diniyah (MD) Al-Ishlah.
Masih berbarengan
dengan tahun itu, ketika akhir tahun 2009 ketika pondok pesantren, sekolah formal
dan non formal diliburkan karena libur semester penulis pulang kampung, karena
itu merupakan tradisi santri yang lainnya setiap libur semester mereka pulang dan
menghabiskan liburan dengan keluarganya. Saat itu sekitaran akhir
bulan di tahun 2009 yang dengan akan bergantinya tahun di tanggal 30
Desember, berita-berita menampilkan Indonesia sedang dirundung dalam duka. Mantan
presiden yang dulu membuat saya penasaran dan membuat bertanya-tanya
perihalnya, kini dia telah tutup umur dan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Gus Dur sang mantan presiden itu meninggalkan kesedihan yang luar biasa untuk
seluruh masyarakat Indonesia, termasuk ketika penulis sudah kembali lagi ke
pondok pesantren ketika liburannya telah usai, di pondok semua santri dan
ustadz termasuk Romo Kiyai mengadakan tahlilan untuk mendoakan kepergian Gus
Dur. Penulis yang hanya mengenal Gus Dur ‘selewat’ saja tidak terlalu
merasakan kehilangan yang begitu signifikan, karena kenal pun penulis baru-baru
sebatas tahu saja, belum mengetahui effect-nya dan kepribadian Gus Dur itu seperti apa
dan bagaimana, penulis belum tahu.
Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Jatireja, Compreng, Subang-lah
penulis bisa lebih mengenal kepribadian Gus Dur itu seperti apa. Lingkungan
pondok itu kental dengan tradisi NU dan PKB, karena pengasuhnya sekaligus
sesepuh pondokan itu Romo KH. Ushfuri
Anshor, orang berpengaruh di NU dan PKB, khususnya regional Subang dan Jawa Barat.
(Romo KH. Ushfuri Anshor pernah menjabat menjadi Anggota Dewan Syuro PWNU Jawa
Barat 2002-2007, tahun 2007 menjabat menjadi Ketua Dewan Syuro DPC PKB Subang
dan Mustasyar PKB DPD PKB Jawa Barat). Alasan itu yang membuat pondok pesantren
Al-Ishlah yang penulis tempati sangat kental NU dan PKB-nya, alasan yang
mengapa Gus Dur sempat datang ke pondokan ini, yang dimana sebelumnya pun
penulis sudah mengetahui Gus Dur pernah menjabat menjadi ketua PBNU dan melalui partai politik PKB-lah Gus Dur bisa naik ke kursi kepresidenan Indonesia.
Penulis tidak lama tinggal di pondokan
itu. Selama 3 tahun penulis mencari ilmu langsung di bawah asuhan Romo
KH. Ushfuri. Penulis hanya menamatkan hingga bangku sekolah kelas 3 MTs saja, dan
penulis melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di sekitaran
desa penulis. Berhubungan dengan Gus Dur, selama 3 tahun berada di pondokan itu
penulis bisa lebih mengenal sosok Gus Dur itu seperti apa dan bagaimana.
Penulis sering bertanya atau diskusi dengan kakak tingkat dan ustadz yang
mengenal kepribadian Gus Dur. Diceritakannya cerita yang sangat mulia sekali
untuk seorang yang tidak mempunyai kesehatan jasmani itu, atau yang sering
penulis sebut Gus Dur si presiden buta. Sering ditampikan cerita kepribadian luar
biasa Gus Dur yang sangat jarang dimiliki khalayak manusia lainnya. Gus Dur
yang berkepribadian Humanis itu membuat penulis mulai mempunyai magnet
menyukai tentang kepribadiannya. Bahkan sempat ada salah satu ustadz yang
menganalogikan Gus Dur ialah wali kontemporer, wali pembawa kedamaian dan
ketentraman umat manusia. Banyak lagi hal-hal menarik perihal kepribadian Gus
Dur yang membuat penulis semakin menyukai beliau.
Sampai pada ketika penulis menamatkan sekolah
menengah di SMK, penulis melanjutkan ekspedisi tholabul ilmi ke salah satu
Universitas Umum-Agama Negri di kota
Bandung. Sampai sekarang penulis masih melanjutkan perkuliahan jenjang S1 di
Fakultas Syari’ah dan Hukum, yang dimana bisa di ketahui bersama bahwasanya
dunia kampus adalah dunia kebebasan dalam hal mencari ilmu, ilmu ke-kirian-nya dan
ke-kanan-nya semua di dunia kampus sangatlah bebas dipelajari dan mudah dijumpai. Orang bilang dunia kampus itu dunia kebebasan berekpresi dalam dunia
akademisi, termasuk penulis pribadi ketika pertama masuk penulis berkenalan
dengan kakak-kakak tingkat tinggi yang bisa dikatakan otaknya agak ‘kekirian’.
Tidak lepas penulispun berkenalan dengan orang-orang organisasi yang bisa
dikatakan orang-orang aktivis. Kedekatan emosional penulis dengan orang-orang
semacam itu mulai terjalin, hampir setiap malam penulis di ajak nongkrong di taman
kampus dan ngopi-ngopi bersama. Akhirnya tidak lama penulispun bergabung ke dalam
organisasi itu.
Yang membuat penulis masuk ke dalam organisasi
itu adalah bukan karena emosional yang sudah terjalin dekat, namun ada salah
satu yang membuat penulis penasaran terhadap organisasi itu. Adalah Gus
Dur, pemahaman dan kajian di organisasi itu ialah tentang pemikiran dan ideologinya Gus Dur. Penulis yang mengenal Gus Dus hanya selewat itu, dengan ini
mempunyai kesempatan untuk bisa mengenal kepribadian Gus Dur lebih dekat lagi.
Sampai sekarang penulis masih aktif di Organisasi ekstra ini, dan memang benar dalam setiap diskusi-diskusinya selalu saja dan tidak pernah lepas dari
pemikiran-pemikiran Gus Dur yang ‘sedikit’ lumayan susah untuk dipahami
pemikirannya. Penulis tidak mau seperti kambing dongo yang ketika diskusi
hanya diam menonton orang-orang ngomong sampai berbusa, dibelilah oleh penulis
buku pertama tentang Gus Dur Biografi Abdurrahman Wahid karangan Greg Barton, dan buku 'Gus Dur dan sepak bola', karena penulispun menyukai sepak bola heuheu..
Hari demi hari pun terus terlewatkan di dunia
kampus, pemikiran Gus Dur yang sudah mulai penulis pelajari tidak lepas menjadi
salah satu bahan referensi untuk tugas perkuliahan dan bahan referensi diskusi
dengan sahabat-sahabat lainnya. Sampai dengan hari ini, detik ini, penulis masih
terus mengkaji dan menggali pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menurut penulis, dan juga diamini oleh sahabat lainnya merupakan pemikiran ‘gila’ Gus Dur yang sangat sulit
di pahami.
Kini mantan presiden buta itu telah tiada, yang
pertama umur penulis baru lima tahun mengenal istilah ‘Presiden Buta’ itu
ternyata bukan orang biasa. Kini penulis mengetahui alasannya mengapa Gus Dur
yang (maaf) buta itu bisa di angkat menjadi Orang Nomor Satu di Negeri ini.
Bukan tidak ada lagi orang yang sehat jasmaninya yang bisa menjadi
presiden, orang yang mempunyai jasmaninya sehat sangatlah banyak, tapi orang
yang seperti Gus Dur sangat jarang pada waktu itu. Dua windu yang lalu dialah
Gus Dur Orang yang bisa mensterilkan ancaman perpecahan (disintegrasi)
wilayah-wilayah kepulauan NKRI, yang terparah masalah pemberontakan Aceh dan Papua,
kerusuhan Ambon dan Poso, serta reformasi birokrasi warisan Eyang Soeharto,yang
pada saat itu pula Timor Timur sudah lebih dahulu memilih merdeka melalui jajak
pendapat pada tahun 1999.
Namun Gus Dur-lah orangnya yang menurut
pendapat masyarakat telah mempunyai kemampuan yang mampu berpikir sepuluh tahun
lebih maju, nampaknya bukanlah mitos belaka. Kebijakannya sebagai presiden
dengan atau tidak disadari, mengalami dampak secara langsung maupun tidak
langsung. Perpecahan NKRI yang menjadi ancaman utama, isu SARA yang tak kunjung
padam, banyaknya propaganda kebencian terhadap sekte yang berbeda, bagaikan
bahan bakar yang terus dipanaskan yang membuat masyarakat ketakutan atas ketidakkondusifan pada waktu itu. Penulis tidak habis pikir jika beliau tidak meredam
dan tidak berusaha mematikan bahan bakar itu, mungkin sebagian bangsa kita sekarang
sudah menjadi abu..
Belum lagi Indonesia pada umumnya di mata
negara-negara lain pasca reformasi 1998, sebab perpecahan telah
mengancam negeri ini dan dibutuhkan lobi-lobi serta pengakuan kembali dari
negara-negara lain di dunia. Seperti dikatakan Gus Dur dalam acara Kick Andy, Gus
Dur mengunjungi 50 negara di lima benua bertujuan untuk melobi dan meyakinkan
negara lain bahwa kondisi Indonesia kondusif dan baik-baik saja. Dia
menjelaskan tugasnya sebagai presiden ketika itu adalah menjaga keutuhan NKRI.
“Dan berhasil to...” kata Gus Dur dalam acara Kick Andy.
Walaupun kebijakan-kebijakan yang di ambil Gus
Dur banyak yang mengkritik dan dianggap tidak benar oleh beberapa pihak, karena
dianggap pemborosan ongkos yang
mencapai lebih dari angka Rp 100 miliar, dianggapnya menghamburkan uang negara. Tapi apa jawaban Gus Dur? “Tapi
eksistensi di mata Dunia harganya lebih mahal dari itu,” ujarnya.
Perjalanan roda pemerintahan memanglah
sulit, seperti di tulis Greg Barton dalam bukunya, Biografi Abdurrahman Wahid,
selain harus menyelesaikan ancaman desintegrasi, KKN, Krisis Moneter, Gus Dur
juga harus menghadapi lawan-lawan
politik dari orang Soeharto yang masih tersisa. Menurut Barton, sebagai presiden
arah pikiran Gus Dur memang sulit ditebak, hubungan Gus Dur dengan banyak
pihak menjadi tidak baik, seperti dengan DPR, Media, dan TNI (terutama setelah
memecat Wiranto). Kebijakan Gus Dur menjadi sasaran kritik dari lawan-lawan
politiknya. Media dalam dan luar negeripun tidak lepas ramai-ramai mengkritik
kebijakannya Gus Dur pada saat itu. Sampai bulan-bulan terakhir menjelah
pelengseran kursi kepresidenan, Gus Dur di terpa banyak masalah dan isu kasus
korupsi. Masalah politik, perseturuan dengan DPR, hingga dugaan kasus Buloggate
dan Brunaigate (yang tidak terbukti sampai sekarang).
Dan akhirnya pada tertanggal 23 Juli 2001 Gus
Dur dilengserkan secara paksa dari kursi ke presidenan, tanpa alasan hukum yang
jelas, Gus Dur dilengserkan secara politis. Dan ketika itu juga Gus Dur yang
berada di dalam Istana Kepresidenan keluar dituntun ke depan Istana dengan memakai celana kolor dan kaos oblong sambil
melambaikan tangannya ke para pendukungnya. Gus Dur dilengserkan...
Mari kembali kita renungkan sejenak saja, andai
saat itu presiden pengganti Eyang Soeharto yang bobrok itu bukan Gus Dur, mungkin tidak tahu nasib bangsa kita sekarang seperti apa dan bagaimana.
Mungkin inilah salah satu jawaban yang penulis resahkan ketika penulis berumur
5 tahun itu, seorang yang jasmaninya yang tidak sempurna, yang menurut penulis yang berumur
5 tahun dan masih polos itu, mengapa harus orang yang buta seperti Gus Dur itu
dipilih menjadi seorang presiden. Tuhan tidak tidur, Tuhan membuat settingan
untuk tetap menjaga keutuhan NKRI ini. Jawaban itu sekarang mulai terasa di
benak penulis, pantas banyak masyarakat yang mengatakan Gus Dur mempunyai
pemikiran sepuluh tahun lebih maju dan penulispun mengamini apa yang pernah
ustadz penulis sampaikan ketika penulis masih mondok bahwasanya Gus Dur ialah wali
kontemporer yang dianugerahkan Tuhan untuk bangsa ini, yang ditugaskan untuk
tetap menjaga keutuhan NKRI.
Kepergian mu akan selalu dikenang banyak Umat
Gus, Seperti syair yang acapkali engkau tembangkan:
“Ketika ibumu melahirkanmu, Wahai
Anak cucu Adam engkau menangis..
Sedang orang-orang di sekitarmu
menyambutmu dengan riang..
Maka, bekerjalah sungguh-sungguh
untuk mu sendiri ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya..
Mereka menangis tersedu-sedu..
Sedang engkau pulang sendiri sambil
tersenyum manis..”
Seperti bunyi syair di atas, kini
engkau telah tiada Gus, semua orang kehilangan engkau. Jutaan orang di seluruh
pelosok negeri berduka, menangis histeris ketika engkau meninggalkan dunia ini untuk
selama-lamanya. Sementara engkau memang pulang sendirian dengan riang Gus, engkau akan segera menempati rumah abadi yang damai.
Presiden yang kata penulis umur 5 tahun dulu yang matanya buta tapi mengapa bisa terpilih menjadi presiden ternyata tidak
sebuta hati dan pengetahuannya. Engkau meninggalkan kita selamanya, namun jasa
engkau yang penulis prediksi akan tetap terasa hari ini hingga seterusnya
selama berputarnya roda kehidupan ini. Sosok engkau yang selalu tidak
menyulitkan perihal apapun dan selalu berkata “gitu aja kok repot”, kini
setelah engkau tiada seakan-akan semuanya menjadi repot Gus..
Penulis sebagai orang awam yang baru-baru
mengenal engkau selalu mendoakan agar Tuhan memberikan tempat yang semestinya
engkau tempati, tempat kenyamanan, ketentraman, kedamaian, seperti ajaran yang
selalu engkau sebarkan Islam yang nyaman, tentram, dan engkau manusia virus
perdamaian Gus..
Lahul Fatihah..
*Penulis adalah Kader Rayon Syari'ah dan Hukum Komisarit UIN SGD Cabang Kabupaten Bandung dan penulis tetap di PMII ZONE

0 komentar:
Posting Komentar