Bandung, Pengurus Rayon Sains dan Teknologi Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Cabang Kabupaten Bandung menggelar diskusi publik “Sejarah PMII Lokal” yang dilaksanakan di sekretariat bersama (Sekber), Kamis (07/03/2017) Malam.
Diskusi tersebut menjawab dan mengupas tuntas kegelisahan-kegelisan juga pertanyaan-pertanyaan yang tertanam dalam kepala kader-kader pergerakan mengenai sejarah dan Gerakan PMII di UIN Bandung.
Secara historis PMII di UIN Bandung berdiri dengan satu cabang, adapun terbentuknya PMII Kabupaten dan kota salah satu indikatornya karena adanya perubahan teritorial yang terjadi di UIN Bandung itu sendiri, yang kemudian di bentuk lah cabang kota Bandung sebagai bentuk diaspora gerakan untuk mengurus kader-kader yang ada di UIN Bandung.
“PMII UIN Bandung awalnya tidak memiliki dua cabang, namun dengan adanya perubahan teritorial terbentuk lah cabang kota Bandung” jelas Dr. Dudang Gojali, M.Ag, Narasumber diskusi dalam paparan materinya.
"Kader PMII tidak boleh terhegemoni dengan dikotomi yang dibentuk oleh lawan yang dianggap tangguh dan kuat, padahal bisa jadi itu tidak ada sama sekali". Lanjut Narasumber
Sebagai kader pergerakan, kader PMII harus memiliki syahwat berpolitik, karena berpolitik bukan menggunakan nalar melainkan menggunakan syahwat, sehingga syahwat berpolitik dirasa penting agar mampu menguasai struktural guna terciptanya kemaslahatan bagi umat.
Kualitas kader PMII harus menjadi faktor utama dengan ekspektasi mereka mampu menjadi individu-individu yang memiliki inisiasi-inisiasi yang cerdas dan tepat guna, sehingga mereka mampu menjadi sekelompok orang yang memiliki bagian.
(Dasem Miyasi/Rokib)
Jumat, 10 Maret 2017
Author: Unknown





0 komentar: