Selasa, 08 Maret 2016

Islam dan Jiwa

(Refleksi dari materi Wawasan Psikologi Islam)


Oleh: Asrizal A.Upe*

         




Islam adalah agama nuansa suatu kepercayaan yang tidak terlepas dari jiwa. Manusia juga memiliki peran yang sangat siginifikan terhadap Islam itu sendiri, sehingga memberikan peran kajian psikologi didalamnya. Psikologi Islam sendiri lahir atau berkembang sejak manusia itu ada bahkan dilihat lebih dalam lagi Psikologi Islam memiliki perkembangan sejak dalam alam lahut (alam ketuhanan). Perumpamaannya dapat kita lihat ketika Tuhan bercerita tentang dua putera Nabi Adam as. Salah seorang dari mereka  (Qabil) melakukan pembunuhahn atas saudaranya (Habil)[1]. Pertumpahan darah yang terjadi pada waktu itu karena Si Qabil memiliki instink tanathos (naluri). Sehingga Islam memang memiliki ruang tersendiri untuk meneliti tentang kejiwaan (psikologis).

           

Islam dan Jiwa tidak terlepas dari kajian yang kita tahu yaitu:

           

Psikologi Islam adalah sebuah refleksi dari psikologi modern dan juga masih sebagai sebuah wacana sehingga kebenarannya masih diuji oleh beberapa ahli. Bahkan, ada yang mengatakan psikologi islam adalah tasawwuf karena berkaitan dengan ilmu jiwa dan beberapa studi di Indonesia menamai jurusannya Taswuf Psikotrapi atau Psikologi dalam Perspektif Islam.

            

Dalam berbagai manuskrip sendiri Psikolog Islam merupakan cabang dari ilmu Psikologi yang didalamnya menjelaskan tentang kejiwaan umat muslim untuk memahaminya dan bertujuan untuk menambah pemahaman dan kepercayaan terhadap agamanya terutama tentang masalah kepribadian manusia, yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendeketana problem dan didasari sumber-sumber formal Islam (Al-Quran dan Hadits), akal indera dn intuisi.[2]

           

Psikologi sebagai ilmu jiwa memandang agama (Islam) sebagaii perilaku manusiawi yang melibatkan siapa saja dan dimana saja. Psikologi agama sebagai suatu aliran baru dalam psikologi masih belum mempunayi kriteria yang paten tentang bagaimana interaksi antara keduanya. Berikut pendapat para ahli psikologi dalam memandang agama:


 Psikologi Ateisme (Friederich Nietzhe)

Dia adalah seorang pemikir besar dan juga seorang ateis yang paling terkenal. Nietzhe mengaku bahwa dia mengetahui ateisme bukan sebagai akibat pemikiran, atau sebagai peristiwa, baginya, ateimse menjai jelas karena naluri. Karena hal ini, membuktikan juga kelemahan dia sebagai mansusia serba terbatas untuk memahami Sang Pencipta. Itulah sebabnya dia mengaku juga bahwa butuh bimbingan dan aturan yang bisa menghantarkannnya kepada penyembahan yang jelas.


B.F. Skinner

Agama menurut B.F. Skinner adalah perilaku yang diperteguh. Menurut pandangan Skiner yang juga termasuk kaum behaviori, untuk mereduksi agama seluruhnya menjaadi perilaku yang ditentukan secara mekanis.


Sigmund Freud

Bagi Sigmund Frreud agama sebagai itu berfungsi pemuasan keingiann kekanak-kanakan. Banyak psikolog yang tertarik tidak hanya pada penyampaian agama, tapi pada asal-usul dinamikanya juga.Freud menegaskan lagi agama sebagai ilusi dan menandai agama sebagaimana yang kita lihat sebgaai delusi psikotis dan komplsif neourotis.[3]  


Seperti ungkapan diatas bahwa sejarah munculnya atau perkembangan Psikologi Islami sendiri telah ada sejak manusia ada tapi dalam manuskrip lain psikologi Islami telah terlihat pada saat manusia masih berada dialam ketuhanan (lahutiah). Jadi, untuk menetapkan secara pasti kapan Psikologi Islam mulai muncul dan berkembang memang agak sulit. Ayat-ayat dalam kitab suci al-Quran yang berkenaan dengan proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang. Karena  pengaruh agama maupun sejarah tentang Islam yang tidak mengungkapkan atau menjelaskan mengenai hal ini maka permasalahan yang menajdi ruang lingkup kajian psikologi Islam banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci maupun agama Islam itu sendiri.


Dimulai dari cara Ibrahim memimpin umatnya sampai kepadanabi dan rasul lain seperti contohnya Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya memebrikan kontribusi tersendiri dalam psikologi islam yaitu dengan cara penyampaian atau percakapan Nabi dengan berbagai golongan dalam umatnya artinya beliau menyesuaikan karakteristik dan kondisi umatnya jika ingin berinteraksi. Sampai kepada [enulisan-penulisan berbagai macam kitab-kitab yang bermuatan tentang kejiwaan contohnya paling besar adalah karya Hujjatul Islam yaitu Imam al-Gazali dengan karya masterpiecenya yaitu Ihya Ulum al-Din-nya yang banyak berbicara tentang mengenai kehidupan beragama. Beliau menguraikan pengaruh ajaran agama terhadap kehidupan beragama.


Satu lagi karangan beliau yaitu Al-Munqid Minal-Dhalal yang didalamnya mengurakan konversi  agama yang dipahami sebagai masa pematangan beragama. Al-Malighy (1955) juga dalam bukunya ”Tasawwuf al-Syu’ur al-Diny ‘Inda Tifl wa al-Murahib” yang didalmnya membahas tentang perkembangan rasa agama pada anak-anak dan remaja.


Dalam Islam manusia di pandang sebagai suatu  hakikat yang memiliki beberapa keharusan dan fungsi yang memang ada dalam manusia. Berikut penjabarannya:



Manusia Adalah Mahluk Allah

Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan Kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamin, sesuai dengan fitrahnya tersebut, manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah,[4] seperti difirmankan Allah sebagaimana dalam quran surah Adz-Dzariat: 56 yang artinya.

Aku tidak menciptakan jin dan manusa kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku

Manusia Sebagai Khalifah Di Muka Bumi Ini

Hal ini berarti, manusia sudah menjadi fitrah akan dirinya untuk menjadi kahalifah dan fitnrahnya sebagai mahluk sosial juga yang tidak bisaa hidup tanpa bantuan siapapun di dunia ini.[5]

Dialah yang menajdikanmu khalifah dimuka bumi (Q.S. Fatir: 39). Selanjutnya Allah berfirman: Dan Dia menundukkan  untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya (Q.S. Al-Jasiyah:3)

Manusia Adalah Mahluk Yang Memiliki Fitrah Bergama

Melaui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nila-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menajdikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.[6]

Manusia Berpotensi Baik (Takwa) Dan Buruk (Fujur)

Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat posiitif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur atau sifat negatif. Kutub pertama membuat seseorang lebih cenderung kearah yang positif. Dengan demikian, mansusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.

Dalam suart Asy-Syamsu: 8-10, difirmankan; “maka allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa. Sungguh bahagia orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya

Manusia Memiliki Kebebasan Meimilih (Free Choice)

Dalam surah Arra’du 11, Allah berfirman:

‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang dimilki (teramasuk dirinya) suatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubha (berinisiatif merekayasa) dirinya sendiri


Manusia diberi kebebasan untuk memilih kehidupannya, apakah mau beriman atau kufur kepada Allah. Dalam hal ini, manusia memiliki kebebasan dan mempunyai kemampuan untuk berupaya menyelaraskan arah perkembangan dirinya dengan tuntutan normatif, nilai-nilai kebenaran, yang dapat memberikan kontribusi atau nilai manfaat bagi kesejahteraan umat manusia.[7]


Pengobatan atau gangguan kejiwaan sendiri pada zaman dahulu sering diidentikkan dengan gangguan mahluk halus sehingga pada zaman dahulu salah satu cara untuk mengobati orang tersebut dengan cara membawanya ke dukun yang dipercaya dapat berkomunikasi dengan arwah mahluk halus yang mengganggu orang tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu penyakit ini dinamakan penyakit kejiwaan serta kebutuhan akan spritualitas semakin meningkat dan cara pengobatan orang seperti tadi sudah berbeda yaitu salah satunya dengan jalan psikoterapis.


Psikoterapis dengan agama di sini dilakukan dengan cara melantungkan doa-doadan lain sebagainya. Kekuatan adalah sangat kuat dikarenakan doa adalah sebuah naluriah dalam manusia, dia berupa jeritan hati untuk membantu, untuk pelepasan dari bahaya atau tekanan atau untuk pemenuhan keinginan. Di ASEAN pentingnya terapi agama dalam psikoterapi mulai diperhatikan. Di Indonesia sendiri beberapa konselor dan terapis memakai agama sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam konsultasi dan terapi psikisnya.[8]


Pengobatan jiwa dalam Islam erat kaitannya dengan ppribadi sang pasien, sehingga kepribadina dalam studi keislaman lebih dikenal dengan istilah syakhshiyah. Syakhshiyah berasal dari kata syakhshun yang berarti pribadi. Kata ini kemudian di beri ya’ nisbat sehingga menjadi kata benda buatan syakhshiyat yang berarti kepribadian.


Tipe Kepribadian

Dalam al-Quran tipe kepribadian manusia itu dapat dikelompokkan menajdi tiga macam, yait: mukmin (orang yang beriman), kafir (menolak kebenaran), dan munafik (meragukan kebenaran).

a.      Tipe Mukmin

Tipe kepribadian mukmin mempunyai karakteristik sebagai berikut.

1)      Berkenaan dengan aqidah, neriman kepada Allah

2)      Berkenaan dengan Ibadah, melaksanakan rukun Iman

3)      Berkenaan dengan kehidupan sosial: bergaul dengan orang lain secara baik.

4)      Berkenaan dengan kehidupan keluarga: berbuat baik kepada kedua orang tua

5)      Berkenaan dengan moral: sabar, jujur, adil, dan mampu mengendilakan hawa nafsu

6)      Berkenaan dengan emosi: cinta kepada Allah, takut akan azab Allah, tidak putus asa

7)      Berkenaan dengan intelektual: memikirkan alam semsta dan ciptaan Allah

8)      Berkenaan dengan pekerjaan: tulus dalam bekerja dan menyempurnakan pekerjaan

9)      Berkenaan dengan fisik: sehat, kaut, dan suci/ bersih

b.      Tipe Kafir

Tipe kepribadian kafir mempunyai karakteristik sebagai berikut.

1)      Berkenaan dengan akidah: tidak beriman kepada Allah, dan rukun iman yang lainnya

2)      Berkenaan dengan ibadah: menolak beribadah kepada Allah

3)      Berkenaan dengan kehidupan sosial: zhalim, memusuhi orang yang beriman, senang mengajak pada kemungkaran, dan melarang kebijakan.

4)      Berkenaan dengan kekeluargaan: senang memutus silaturahim

5)      Berkenaan dengan emosi: tidak cinta kepada Allah, tidak takut azab Allah

6)      Berkenaan dengan emosi: tidak cinta kepada Allah

7)      Berkenaan dengan intelektual: tidak menggunakan pikirannya untuk bersyukur kepada Allah

c.       Tipe munafik

1)      Berkenaan denga akidah, bersifat ragu dalam keimanan

2)      Berkenaan dengan ibadah: bersifat riya, dan bersifat malas

3)      Berhubungan dengan hubugnan sosial; menuyuruh kemungkaran dan mencegah kebajikan, suka menyebar isu sebagai bahan adu domba dikalangan kaum muslimin.

4)      Berkenaan dengan moral: senang berbohong, tidak amanah (khianat), ingkar, dll

5)      Berkenaan dengan emosi: suka curiga terhadap orang lain, takut mati

6)      Berkenaan dengan intelektual. Peragu dan kurang mampu mengambil keputusan.[9]


Jadi, berkenaan dengan penjelasan singkat antara  keterkaitan antara Islam sebagai Agama dan Jiwa sebagai Ilmu Psikologi dapat kita lihat beberapa hubungan yang erat sekali dikarenakan agama akan membentuk watak seseorang sesuai kepercayaan yang ditanamkan sejak anak itu mengerti tentang arti kepercayaan sehingga seperti halnya B’F. Skinner seorang tokoh Behavioris dan juga J.B. Watson memeprlihatkan bahwa watak atau perilaku seseorang sangat dipengaruhi dengan penanaman kepercayaan yang telak diatanamkannya sejak ia kecil.




[1] Q.S. Al-Maidah  [5]; 30-31.

[2] Jamaluddin Ancok, Psikologi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994, hlm 7

[3] Endi, M.A. Psikologi Agama,Memahami pengaruh agama terhadap perilaku manusia serta titik temuan antara agama dan psikologi, 2012, Yogyakarta, Spriit If For Educartion And Development, hlm., 35

[4] Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN, M.Pd., Prof. Dr. A. Juntika Nurihsan, M.Pd., Teori Kepribadian, (cet. III 2011, Bandung, PT. REMAJA ROSDAKARYA, hlm., 210

[5] Ibid.,

[6] Ibd., hlm 211

[7] Ibid, hlm., 2132

[8] Endi, M.A., Psikologi Agama-Memahami pengaruh agama terhadap perilaku manusia serta titik temuan antara agama dan psikologi, 2012, Yogyakarta, Penerbit Buku Pnedidikan Dan Kepesantrenan, hlm., 144

[9] Op.cit. hlm., 214-216


*Penulis adalah Pengurus Rayon  Ushuludin Komisariat UIN SGD Bandung Cab. Kabupaten Bandung


Author:

0 komentar: