Oleh: Abdul Muiz Misbah*
Awali hari dengan tangisan alam
Kota itupun dibasahinya lagi serasa sayu hari ini
terasa tak ada jawaban untuk tidak meneteskan air mata
Aku masih ragu untuk melangkah
Terasa kaku kakiku dibuatnya
Membawa pesannya datang lagi tak mau merubah fikiranku
Yang ada hanya kesempatan, harapan, usaha, dan bukan di
kasihani
Derasnya berubah menjadi percikan
Masih terasa akan adanya tetesan
Tapi aku berusaha menunggu di gerbang
Menunggu saat datangnya
Fajar piluku terasa jauh berubah
Menjadi kilauan saat sinar itu datang
Dengan menghela nafas panjang segera ku hampiri
Dengan belaian tangan mengusap keringat!
Apakah kamu mencoba masuk untuk ku Tanya??
Simpanlah sepercik sinarmu biarkan aku masuk untuk dapatkan
sinarmu itu
Auramu membawaku dalam kedamaian
Hadirmu membawa keindahan
Dan caramu tenang membawaku dalam alunan hidup yg sederhana
Namun aku bahagia, biarlah aku menjadi akarmu
Yang akan menguatkanmu
Memberimu sari untuk keindahanmu
Aku tak akan
memberikanmu racun melainkan madu
Yang akan semua makhluk di dunia ini mencarimu
Aku yang sederhana ini akan terus berusaha untuk melakukan
apapun untuk membuatmu tetap istimewa
*Penulis merupakan Ketua Rayon Syari'ah dan Hukum periode 2016-2017





0 komentar: